Perjuangan Pekerja Elnusa Menyingkap Energi lewat Survei Seismik Kandawulo

  • 05 Sep 2026 19:09 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Laut Selat Makassar mungkin terlihat tenang dari kejauhan. Namun, di tengah hamparan laut itu, sekelompok pekerja menghabiskan hari-harinya di atas kapal untuk mencari sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Mereka bekerja menggunakan teknologi seismik untuk membaca dan memetakan lapisan di bawah dasar laut. Data yang diperoleh menjadi bagian penting dalam proses eksplorasi minyak dan gas bumi, sekaligus membantu membuka gambaran mengenai potensi sumber daya energi yang tersembunyi di bawah permukaan.

Pekerjaan tersebut membutuhkan teknologi, ketelitian, pengalaman, sekaligus disiplin keselamatan yang tinggi.Hal itu tergambar dalam keberhasilan Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo yang diselesaikan PT Elnusa Tbk di Selat Makassar.

Dalam talkshow RRI Pro 1 Makassar, Sabtu, 5 September 2025, Senior Manager Corporate Communication & Relation PT Elnusa Tbk, Jayanty Oktavia Maulina, menjelaskan survei seismik pada dasarnya merupakan proses untuk membuat peta kondisi bawah permukaan bumi.

“Kalau diibaratkan membangun rumah, data seismik adalah fondasinya,” ujar Jayanty.

Melalui survei tersebut, Elnusa mengumpulkan data bawah permukaan secara detail. Data kemudian diproses dan dianalisis untuk menggambarkan struktur geologi serta potensi sumber daya minyak dan gas bumi di suatu wilayah.

“Bagi industri migas, kualitas data menjadi sangat penting karena data tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan langkah eksplorasi berikutnya.” Ungkap Jayanti

Selesai 20 Hari Lebih Cepat

Keberhasilan proyek Kandawulo tidak hanya diukur dari selesainya pekerjaan. Tim Elnusa juga mampu merampungkan survei lebih cepat dari target yang ditetapkan.

“Survei yang semula ditargetkan selesai dalam 76 hari, berhasil dirampungkan hanya dalam 56 hari.Artinya, pekerjaan dapat diselesaikan sekitar 20 hari lebih cepat dari target.”

Namun, percepatan tersebut tidak dilakukan dengan memangkas tahapan pekerjaan. Menurut Jayanty, kualitas data tetap menjadi prioritas. Setiap tahapan pekerjaan diawasi melalui proses quality control yang ketat.

“Kecepatan bagi kami bukan tujuan utama. Yang paling penting adalah kualitas data tetap memenuhi standar yang dipersyaratkan. Percepatan pekerjaan dicapai melalui efisiensi, produktivitas, perencanaan matang, koordinasi antartim, serta penggunaan teknologi yang sesuai." Ungkap Jayanti

99.120 Jam Kerja Aman

Di balik pencapaian tersebut, terdapat aspek lain yang tidak kalah penting, yakni keselamatan kerja.Proyek Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo mencatat 99.120 jam kerja aman tanpa kecelakaan kerja.Bagi Elnusa, capaian itu menunjukkan bahwa produktivitas dan keselamatan dapat berjalan beriringan.

Talkshow Lintas Informasi Sulawesi Selatan Terkait Elnusa Perkuat Ketahanan Energi Melalui Teknologi Seismik Laut dalam Pada Proyek Offshore 3D Kandawulo PT Elnusa Tbk di Selat Makassar

Jayanty mengatakan aspek Health, Safety, Security and Environment atau HSSE menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap kegiatan operasional. “Setiap pekerja wajib mengikuti standar keselamatan. Di saat yang sama, seluruh kegiatan juga harus memperhatikan aspek lingkungan serta kepatuhan terhadap regulasi.”

Keberhasilan proyek tersebut juga tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari tim proyek, pemerintah daerah, aparat keamanan, regulator hingga masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Ketika Kapal Menjadi Rumah

Di balik angka dan teknologi tersebut, ada cerita petugas seismic yang bekerja jauh dari daratan. Business Manager Offshore Seismic and Survey Elnusa Tbk, Parsa Oran Tampu Bolon, mengisahkan bahwa laut menjadi ruang kerja sekaligus tantangan yang harus dihadapi untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi bawah permukaan bumi.

“Tujuannya survei seismik laut itu untuk mendapatkan data bawah permukaan. Pekerjaan tersebut menjadi bagian awal dari proses eksplorasi,” tutur Parsa.

Salah satu proyek yang pernah ditangani Parsa dan timnya adalah Offshore 3D Kandawulo di Selat Makassar dengan luas wilayah survei sekitar 2.500 kilometer persegi.

Petugas Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo PT Elnusa Tbk di Selat Makassar.

Sekitar 147 personel terlibat dalam pekerjaan tersebut.Satu kapal utama digunakan sebagai pusat kegiatan survei, sementara empat kapal pendukung membantu mengawal pergerakan kapal utama. Selama kurang lebih dua bulan, para pekerja menjalankan aktivitas tanpa jeda. Sistem kerja diterapkan dengan pola 45 hari bekerja dan 18 hari libur.

Pengambilan data berlangsung selama 24 jam dengan dua tim yang bekerja secara bergantian.Kapal pun berubah menjadi tempat bekerja sekaligus tempat tinggal. “Selama bertugas, kapal menjadi tempat bekerja sekaligus tempat tinggal. Tidak ada perjalanan pulang setiap sore. Tidak ada akhir pekan bersama keluarga,” kata Parsa.

Parsa pernah mendapat tugas ketika Natal sehingga harus tetap berada di atas kapal. Begitu pula dengan rekan-rekannya yang beragama Islam ketika pekerjaan bertepatan dengan Hari Raya Idul fitri.

“Ini merupakan konsekuensi dan komitmen, kita sudah bertugas untuk mendukung kegiatan eksplorasi untuk negara,” tuturnya.

Laut yang Tidak Selalu Bersahabat

Tantangan para pekerja seismik bukan hanya rasa rindu kepada keluarga. Selat Makassar memiliki kedalaman yang dapat mencapai sekitar 900 meter. Kondisi tersebut membutuhkan teknologi dan peralatan yang sesuai.

Salah satu kapal yang digunakan untuk pusat kegiatan Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo PT Elnusa Tbk di Selat Makassar.

Menurut Parsa, kondisi laut di wilayah Indonesia Timur sangat fluktuatif. Permukaan laut yang sebelumnya tenang dapat berubah dalam waktu singkat. “Dalam satu waktu, permukaan laut bisa begitu tenang. Bahkan terlihat seperti kaca tanpa gelombang berarti. Namun kondisi tersebut dapat berubah. Dalam hitungan waktu, gelombang dapat meningkat dan membuat pekerjaan menjadi jauh lebih menantang,” ujarnya.

Perjalanan Data Belum Berakhir

Ketika kapal menyelesaikan pekerjaannya dan data berhasil dikumpulkan, tugas belum benar-benar selesai. Jutaan data yang diperoleh dari lapangan masih harus diproses menggunakan teknologi pemrosesan seismik. Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Data dibersihkan, dianalisis dan diolah hingga menghasilkan gambaran bawah permukaan bumi yang lebih jelas.

Elnusa, kata Jayanty, memiliki pengalaman lebih dari lima dekade di industri jasa energi. Pengalaman tersebut menjadi modal dalam menangani berbagai pekerjaan geosains dan survei seismik, baik di darat maupun di laut.

“Melalui layanan geosains terintegrasi, Elnusa menangani rangkaian pekerjaan mulai dari perencanaan survei, akuisisi data di lapangan hingga pengolahan data.Semua proses tersebut dilakukan dalam satu sistem yang terkoordinasi," kata Jayanti.

Manusia di Balik Garis Data

Setelah melewati berbagai tantangan itu, hasil survei menjadi jawaban dari perjalanan panjang. Dalam survei terakhir di Selat Makassar, data yang diperoleh bahkan disebut melebihi ekspektasi yang ditetapkan.

Parsa dan tim Survei Seismik 3D Kandawulo di Selat Makassar mungkin tidak selalu menjadi orang yang disebut ketika sebuah sumur pengeboran ditentukan. Tetapi data yang mereka kumpulkan dari tengah laut menjadi bagian penting dari perjalanan panjang untuk membaca apa yang tersembunyi jauh di bawah permukaan bumi. Mereka meninggalkan rumah. Menjauh dari keluarga. Menghabiskan waktu berminggu-minggu, semua dilakukan untuk satu tujuan, menghadirkan gambaran tentang apa yang tersembunyi jauh di bawah dasar laut untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....