Sambal Salah Satu Makanan yang Lekat dengan Masyarakat Indonesia

  • 24 Agt 2026 19:59 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Sambal menjadi salah satu makanan yang lekat dengan kebiasaan masyarakat Indonesia. Melihat tingginya kebutuhan masyarakat terhadap sambal sekaligus kesibukan yang membuat sebagian orang tidak sempat menyiapkan lauk dan sambal sendiri.

Eva Djafar - Owner Kaya Sambal dalam Obrolan Teras UMKM Pro4 RRI Makassar edisi, Minggu, 23 Agustus 2026 mengatakan, sambal bukan lagi sekadar pelengkap makanan, tetapi telah menjadi bagian yang hampir selalu tersedia di meja makan masyarakat Indonesia. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan dirinya memilih sambal sebagai produk usaha.

“Kalau ditanya mengapa saya memilih usaha sambal, karena sambal sudah identik dengan makanan wajib yang ada di meja makan. Orang Indonesia rasanya tidak bisa makan kalau tidak ada sambal. Jadi, menurut saya, sambal bukan hanya pelengkap, tetapi sudah menjadi kebutuhan”, ujar Eva.

Selain melihat sambal sebagai produk yang familiar di masyarakat, Eva juga mengembangkan konsep sambal lauk praktis. Konsep tersebut dibuat untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang memiliki aktivitas padat sehingga tidak selalu memiliki waktu untuk memasak atau membuat sambal sendiri.

Menurutnya, produk yang ditawarkan tidak hanya berupa sambal, tetapi juga dilengkapi lauk dalam satu kemasan. Komposisinya terdiri atas sambal dan lauk sehingga konsumen dapat langsung menyantapnya bersama nasi tanpa perlu memasak terlebih dahulu.

“Konsep usaha saya adalah sambal lauk praktis. Jadi, 50 persen sambal dan 50 persen lauk. Ketika ingin makan, konsumen tidak perlu memasak lagi. Tinggal membuka kemasan, menuangkan ke nasi, lalu langsung dimakan. Jadi, sambal dan lauk sudah menjadi satu paket,” jelasnya.

Sementara itu, untuk menjaga konsistensi rasa, Eva sangat memperhatikan pemilihan bahan baku, khususnya cabai dan bawang. Ia bekerja sama dengan sejumlah pemasok yang telah dipercaya dan menetapkan standar tertentu terhadap bahan yang digunakan. Menurutnya, setiap daerah menghasilkan cabai dengan karakteristik yang berbeda, baik dari tingkat kepedasan, jumlah biji, maupun cita rasanya. Karena itu, pemilihan bahan baku menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produk.

“Setelah menekuni usaha sambal, saya belajar bahwa cabai dari setiap daerah memiliki karakteristik berbeda. Ada yang lebih pedas, ada yang tidak terlalu pedas, bahkan ada yang memiliki biji terlalu banyak. Jadi, kami sudah memiliki supplier dan standar bahan baku tertentu”, ungkapnya.

Untuk cabai, Eva memilih menggunakan cabai dari Enrekang karena dinilai memiliki kualitas yang lebih sesuai dengan kebutuhan produknya. Meski harganya relatif lebih tinggi dibandingkan cabai dari daerah lain seperti Jeneponto, kualitas bahan tetap menjadi pertimbangan utama. Ia mengaku harus benar-benar memahami jenis, tingkat kualitas, dan karakteristik setiap bahan yang digunakan. Sebab, kesalahan dalam memilih bahan baku dapat memengaruhi cita rasa produk yang dihasilkan.

Melalui konsep sambal lauk praktis tersebut, Eva berharap produknya dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang menginginkan makanan praktis tanpa harus mengorbankan cita rasa. Selain itu, konsistensi dalam memilih bahan baku dan menjaga kualitas produk menjadi bagian penting dalam pengembangan usahanya. Pungkas Eva.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....