Unismuh Latih Pemuda Pakatto Jadi Fasilitator Permainan Tradisional

  • 21 Agt 2026 10:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID GOWA — Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 melatih anggota Ikatan Pemuda Pakatto menjadi fasilitator permainan tradisional di Desa Pakatto, Kabupaten Gowa, Kamis, 20 Agustus 2026. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju Festival Permainan Tradisional Anak Desa Pakatto sekaligus upaya menghidupkan kembali permainan rakyat sebagai ruang bermain yang kreatif, edukatif, dan berbasis budaya lokal.

Program yang mengangkat tema “Dari Folklor ke Ruang Kreatif Anak: Inovasi Seni Permainan Tradisional Gowa sebagai Praktik Budaya Hidup” ini memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM).

Ketua Tim Pelaksana PISN Unismuh Makassar, Dr. Wildhan Burhanuddin, M.Hum., mengatakan keterlibatan pemuda lokal menjadi bagian penting untuk memastikan kegiatan permainan tradisional dapat terus berjalan setelah program selesai.

“Hari ini kami tidak hanya melatih pemuda untuk memainkan permainan tradisional, tetapi mempersiapkan mereka menjadi fasilitator. Mereka nantinya akan menjadi orang yang mendampingi anak-anak, menjelaskan aturan, menjaga keamanan, dan menciptakan suasana bermain yang menyenangkan pada Festival Permainan Tradisional Anak Desa Pakatto,” ujar Wildhan.

Siapkan Fasilitator Lokal

Dalam pelatihan, anggota Ikatan Pemuda Pakatto tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai permainan tradisional. Mereka juga mengikuti praktik langsung dan simulasi menjadi fasilitator.

Materi mencakup cara memandu permainan, mengelola kelompok anak, mengatur giliran bermain, menjelaskan aturan, hingga memperhatikan aspek keselamatan peserta.

Program menargetkan sedikitnya lima fasilitator lokal yang memiliki kemampuan mendampingi kegiatan seni permainan tradisional anak.

Menurut Wildhan, keberadaan fasilitator lokal penting untuk menjaga keberlanjutan program. Pemuda memiliki kedekatan dengan masyarakat sekaligus dapat menjadi penggerak aktivitas budaya di tingkat desa.

Dalam sesi praktik, peserta mempelajari lima permainan yang menjadi fokus awal program, yakni A’Gasing, A’Raga, A’Bole-Bole/A’Kandasse, A’Longga-Longga, serta A’Galacang/A’Kanraco. Kelima permainan tersebut mengacu pada hasil identifikasi permainan rakyat tradisional Kabupaten Gowa yang digunakan sebagai rujukan dalam pelaksanaan PISN.

Menuju Festival Permainan Tradisional Anak

Pelatihan fasilitator menjadi salah satu tahapan menuju Festival Permainan Tradisional Anak Desa Pakatto. Setelah pelatihan, tim Unismuh bersama Ikatan Pemuda Pakatto akan melanjutkan program melalui pengembangan dan penyiapan permainan, uji coba bersama anak-anak, pendampingan, hingga persiapan teknis festival.

Festival tersebut ditargetkan menghadirkan sedikitnya lima jenis permainan tradisional dengan keterlibatan minimal 100 anak dan warga.

Kepala Desa Pakatto, Basir, S.E., menyambut baik program tersebut. Menurutnya, permainan tradisional merupakan bagian dari budaya masyarakat yang perlu dikenalkan kembali kepada generasi muda. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena permainan tradisional merupakan bagian dari budaya masyarakat yang perlu dikenalkan kembali kepada anak-anak. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang bagi anak untuk bermain sekaligus mengenal budaya lokal, dan ke depan dapat terus dilanjutkan dengan melibatkan pemuda serta masyarakat Desa Pakatto,” ungkap Basir.

Ia menilai keterlibatan Ikatan Pemuda Pakatto sebagai fasilitator menjadi langkah strategis karena pemuda dapat berperan langsung menjaga keberlanjutan kegiatan budaya di lingkungan masyarakat. Program PISN tersebut dilaksanakan tim Unismuh Makassar yang diketuai Wildhan Burhanuddin dengan anggota Irsan Kadir, S.Pd., M.Pd., Dr. Meisar Ashari, S.Pd., M.Sn., dan Muhammad Zia Ulhaq, M.Kom.

Ikatan Pemuda Pakatto menjadi mitra program dengan dukungan Pemerintah Desa Pakatto. Rangkaian program tidak berhenti pada festival. Tahapannya meliputi sosialisasi, diskusi kelompok terarah permainan tradisional, pelatihan fasilitator, pengembangan inovasi, uji coba, pendampingan, festival, evaluasi, hingga penguatan keberlanjutan.

Melalui rangkaian tersebut, Unismuh Makassar mendorong permainan tradisional tidak hanya hadir sebagai nostalgia atau pertunjukan sesaat, tetapi kembali menjadi praktik budaya yang hidup melalui keterlibatan anak-anak, pemuda, masyarakat, dan pemerintah desa. Program ini juga berkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran berbasis budaya dan pengalaman bagi anak, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui pelestarian warisan budaya lokal, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi Unismuh Makassar, Ikatan Pemuda Pakatto, dan Pemerintah Desa Pakatto dalam menjaga keberlanjutan praktik budaya di masyarakat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....