Pemerintah Diminta Siapkan Strategi Adaptif Bebaskan Sandera Somalia

  • 20 Agt 2026 08:13 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Pemerintah diminta segera menyiapkan strategi adaptif untuk membebaskan pelaut asal Sulawesi Selatan yang disandera perompak Somalia. Upaya tersebut dinilai perlu dipercepat karena penyanderaan telah berlangsung hampir empat bulan.

Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal mengatakan, pemerintah telah melakukan koordinasi dengan sejumlah lembaga terkait untuk mencari strategi pembebasan. Koordinasi tersebut melibatkan Kementerian Luar Negeri, Panglima TNI dan Badan Intelijen Negara (BIN).

“Ini sudah memasuki hari yang ke-4 bulan, sudah hampir 4 bulan dan belum ada kemajuan yang berarti,” kata Syamsu Rizal dalam Dialog Makassar Pagi RRI, Rabu, 19 Agustus 2026.

Menurut Syamsu Rizal, pemerintah perlu merumuskan strategi yang menyesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan. Upaya tersebut juga perlu melibatkan perangkat pemerintah yang memiliki informasi dan kapasitas dalam proses negosiasi maupun pembebasan sandera.

Ia menyebut, koordinasi juga diarahkan kepada Atase Pertahanan Indonesia di Nairobi dan Roma. Langkah tersebut diperlukan untuk membuka ruang negosiasi secara informal karena kelompok yang menyandera para pelaut merupakan aktor nonnegara.

“Karena aktor yang melakukan perompakan ini adalah non-state actor,” ujarnya. Menurutnya, kondisi tersebut membuat pendekatan pemerintah dalam proses pembebasan harus disusun secara hati-hati dan melibatkan berbagai pihak.

Host : Alpianus Ba'ka bersama narasumber Syamsuddin ( Orang Tua Korban Penyanderaan Perompak Somalia ) dan Dr. H. Syamsu Rizal MI, S.Sos., M.Si ( Anggota Komisi 1 DPR RI Dapil Sulsel )

Selain jalur negosiasi, Syamsu Rizal meminta Panglima TNI mempertimbangkan alternatif operasi militer sebagai opsi terakhir dimana Opsi tersebut disebut sebagai bagian dari strategi yang perlu disiapkan pemerintah apabila situasi mengharuskan adanya tindakan lain untuk menyelamatkan para sandera.

“Bahkan saya minta kepada Panglima TNI untuk memikirkan alternatif untuk dilakukan operasi militer,” katanya. Ia menilai berbagai opsi perlu disiapkan untuk memastikan keselamatan Kapten Ashari dan awak kapal lainnya.

Sementara itu, orang tua Kapten Ashari, Syamsuddin Deng Ngawing, mengatakan komunikasi dengan anaknya masih berlangsung secara terbatas. Ia menyebut kondisi fisik dan psikologis para awak kapal mulai tertekan karena kekurangan makanan, air minum, masalah kesehatan, serta tekanan dari para perompak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....