Ulama Ingatkan Umat Waspadai Ria' dalam Beramal

  • 10 Agt 2026 20:15 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Keikhlasan menjadi salah satu landasan penting dalam setiap amal saleh dan ibadah yang dilakukan umat Islam. Keinginan memperoleh pujian atau perhatian manusia dinilai dapat menggeser niat ibadah yang semestinya ditujukan untuk memperoleh rida Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan anggota Komisi Fatwa MUI Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus dosen Universitas Muslim Indonesia Makassar, Dr. Yusri Muhammad Arsyad, Lc., M.A., dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Makassar, Minggu (9/8/2026).

Dr. Yusri Muhammad Arsyad, Lc., M.A. Anggota Komisi Fatwa MUI Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus dosen Universitas Muslim Indonesia Makassar dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Makassar, Minggu (9/8/2026).

Yusri menjelaskan, ria merupakan sikap ketika seseorang melakukan ibadah atau kebaikan bukan semata-mata karena Allah SWT, melainkan karena ingin dilihat, diketahui, atau mendapatkan pujian dari orang lain. Karena itu, umat Islam perlu senantiasa memeriksa dan menjaga niat dalam setiap amal yang dilakukan.

Menurutnya, salah satu cara menghindari ria adalah membangun kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa melihat dan mengetahui seluruh perbuatan manusia. Kesadaran tersebut diharapkan mendorong seseorang tetap melakukan kebaikan meskipun tidak ada orang lain yang mengetahui.

Ia juga mengingatkan agar pujian manusia tidak dijadikan ukuran dalam beramal. Seseorang perlu melakukan introspeksi apabila semangat berbuat baik justru meningkat ketika mendapat perhatian atau pujian, tetapi menurun ketika tidak ada yang melihat.

“Kalau banyak orang dia mau bangun salat tahajud, kalau tidak ada orang melihat dia malas. Kalau banyak orang baru dia membaca Al-Qur'an, kalau sendiri tidak mau mengambil Al-Qur'an,” jelasnya.

Yusri mengatakan kondisi tersebut dapat menjadi salah satu tanda seseorang perlu mengevaluasi kembali niatnya. Karena itu, umat Islam dianjurkan melakukan muhasabah sebelum, ketika, dan setelah melaksanakan amal agar tujuan ibadah tetap terjaga.

Ia menambahkan, keikhlasan tidak hanya diperlukan dalam ibadah mahdhah, tetapi juga dalam berbagai aktivitas kehidupan. Pekerjaan, membantu orang lain, maupun aktivitas sehari-hari dapat menjadi amal yang bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan tidak semata-mata untuk memperoleh pengakuan manusia.

Yusri berharap umat Islam membiasakan diri mengutamakan penilaian Allah SWT dibandingkan penilaian manusia. Dengan menjaga keikhlasan dan menghindari ria, setiap amal diharapkan dapat dilakukan dengan lebih tulus serta menjadi bekal untuk memperoleh rida Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....