Listrik Desa Dinilai Kunci Pemerataan Kesejahteraan Sulsel

  • 29 Jul 2026 18:01 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Pemerataan akses listrik dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah terpencil dan kepulauan Sulawesi Selatan. Ketersediaan energi listrik tidak hanya menghadirkan penerangan, tetapi juga membuka akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, hingga peluang ekonomi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Ir. Salama' Manjang, M.T., Pakar Ketenagalistrikan Universitas Hasanuddin dalam program Dialog Interaktif Makassar Menyapa di Pro 1 RRI Makassar, Selasa (28/7/2026). Menurutnya, Program Listrik Desa (Lisdes) merupakan langkah strategis untuk mengurangi kesenjangan akses energi sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di berbagai daerah.

Prof. Salama' menjelaskan, meskipun rasio elektrifikasi nasional telah melampaui 90 persen dan Sulawesi Selatan memiliki surplus pasokan listrik, masih terdapat sejumlah desa di kawasan pegunungan, hutan, dan pulau-pulau terluar yang belum menikmati layanan listrik selama 24 jam. Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi pada ketersediaan daya, melainkan pemerataan distribusi energi.

"Persoalan kita hari ini bukan kekurangan energi listrik, tetapi bagaimana listrik itu bisa menjangkau seluruh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terpencil dan kepulauan," ujarnya.

Ia mengatakan kehadiran listrik memberikan dampak yang sangat luas bagi kehidupan masyarakat. Di sektor pendidikan, listrik memungkinkan anak-anak belajar dengan lebih nyaman pada malam hari. Di bidang kesehatan, fasilitas kesehatan dapat menyimpan vaksin dan obat-obatan dengan baik. Sementara di sektor ekonomi, listrik membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha produktif serta memperluas akses terhadap informasi dan teknologi digital.

Prof. Dr. Ir. Salama' Manjang, M.T., Pakar Ketenagalistrikan Universitas Hasanuddin dalam program Dialog Interaktif Makassar Menyapa di Pro 1 RRI Makassar, Selasa (28/7/2026).

Menurut Prof. Salama', pembangunan jaringan listrik di wilayah terpencil masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi geografis yang berat, permukiman yang berjauhan, hingga keterbatasan akses transportasi. Kondisi tersebut menyebabkan biaya pembangunan infrastruktur kelistrikan menjadi lebih tinggi dibandingkan di wilayah perkotaan.

Sebagai solusi, ia mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah. Menurutnya, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) komunal cocok diterapkan di wilayah dengan intensitas sinar matahari tinggi, sementara daerah pegunungan dapat memanfaatkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH). Adapun rumah-rumah yang tersebar dapat dilayani melalui solar home system (SHS) berupa paket lampu tenaga surya.

"Teknologi energi terbarukan harus menjadi bagian dari solusi. Dengan memanfaatkan potensi alam yang dimiliki setiap daerah, akses listrik dapat diperluas secara lebih efisien dan berkelanjutan," jelasnya.

Selain pembangunan infrastruktur, Prof. Salama' menekankan pentingnya menyiapkan sumber daya manusia di tingkat desa agar program kelistrikan dapat berjalan berkelanjutan. Ia menilai pelatihan teknisi lokal perlu menjadi bagian dari implementasi Program Listrik Desa sehingga masyarakat mampu melakukan perawatan maupun penanganan awal apabila terjadi gangguan pada sistem kelistrikan.

Menutup dialog, Prof. Salama' berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, PLN, kalangan akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan pemerataan akses listrik. "Listrik bukan sekadar menghadirkan cahaya, tetapi juga membuka jalan bagi peningkatan kualitas hidup, pertumbuhan ekonomi, dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat di wilayah pelosok," pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....