Dari Salat Istisqa hingga Haul Ulama, Wajo Jadi Ruang Pertemuan Doa dan Ilmu

  • 29 Jul 2026 08:56 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Wajo - Lapangan Kantor Bupati Wajo menjadi saksi peristiwa penuh makna yang mempertemukan doa, ilmu, dan keteladanan ulama. Ratusan masyarakat berkumpul dalam Salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan, kemudian melanjutkan langkah spiritual dengan mengenang jasa besar ulama kharismatik Sulawesi Selatan dalam Ngaji Perdana 2026 Pondok Pesantren As’adiyah yang dirangkaikan dengan Haul ke-40 AG. KH. M. Yunus Martan, Selasa, 28 Juli 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Agama Republik Indonesia Prof. KH. Nasaruddin Umar, didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan Dr. H. Ali Yafid, S.Ag., M.Pd.I., bersama jajaran Kementerian Agama, pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat Kabupaten Wajo. Rangkaian kegiatan diawali dengan Salat Istisqa di Lapangan Kantor Bupati Wajo. Wakil Bupati Wajo dr. H. Baso Rahmanuddin bersama unsur Forkopimda, ASN, tokoh agama, dan masyarakat ikut larut dalam doa memohon rahmat Allah SWT di tengah kondisi kemarau.

Dalam khutbahnya, Menteri Agama mengingatkan bahwa Salat Istisqa bukan hanya ritual memohon hujan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperbanyak syukur, memperbaiki diri, menjaga lingkungan, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama. “Kalau kita belum mampu memperbaiki masyarakat, perbaikilah keluarga kita. Jika belum mampu memperbaiki keluarga, maka jangan pernah berhenti memperbaiki diri sendiri,” pesan Menteri Agama.

Suasana semakin haru ketika Menag mengenang masa kecilnya sebagai santri Pondok Pesantren As’adiyah. Ia menceritakan peristiwa tahun 1972 ketika Wajo dilanda paceklik panjang. Saat itu, AG. KH. M. Yunus Martan mengajak masyarakat melakukan qunut nazilah dalam Salat Jumat untuk memohon pertolongan Allah SWT. Menurut Menag, setelah doa yang dipimpin sang ulama, hujan deras turun mengguyur wilayah Wajo. Peristiwa tersebut menjadi kenangan yang membekas dan menggambarkan keteladanan serta kedekatan ulama dengan masyarakat.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Kampus III Pondok Pesantren As’adiyah Macanang, Sengkang, tempat digelarnya Ngaji Perdana 2026 dan Haul ke-40 AG. KH. M. Yunus Martan. Di hadapan santri, alumni, dan masyarakat, Menteri Agama mengungkapkan rasa syukur pernah menjadi bagian dari keluarga besar As’adiyah. Ia mengenang sosok AG. KH. M. Yunus Martan sebagai guru yang menanamkan kecintaan terhadap ilmu, khususnya dalam pembelajaran bahasa Arab dan pendidikan agama.

Menag menegaskan, keberadaan banyak alumni As’adiyah yang kini berkiprah di berbagai bidang merupakan bukti keberhasilan sistem pendidikan yang dibangun melalui keikhlasan, kedisiplinan, dan keteladanan para ulama. Sementara itu, Kakanwil Kemenag Sulsel Ali Yafid menilai rangkaian kegiatan di Wajo membawa pesan yang saling menguatkan. Salat Istisqa mengajarkan manusia untuk selalu bergantung kepada Allah SWT, sementara haul dan ngaji ulama mengingatkan pentingnya menjaga mata rantai ilmu.

“Doa adalah kekuatan spiritual, sedangkan ilmu adalah cahaya peradaban. Hari ini kita menyaksikan keduanya bertemu di Wajo. Semoga semangat yang diwariskan para ulama terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam membangun umat yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia,” ujar Ali Yafid. Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa Wajo bukan hanya menyimpan sejarah keagamaan, tetapi juga menjadi pusat lahirnya tradisi ilmu dan perjuangan ulama. Pesan yang dibawa Menteri Agama bersama Kakanwil Kemenag Sulsel adalah menjaga keseimbangan antara doa, ilmu, akhlak, dan kepedulian sebagai fondasi membangun generasi masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....