Peneliti dan Pemkot Makassar Bahas Model Penanganan Trauma Korban Kekerasan

  • 08 Jul 2026 10:55 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Forum Group Discussion (FGD) mengenai perumusan model pencegahan trauma kekerasan terhadap perempuan berbasis modal sosial perempuan, ketahanan psikologis, dan nilai budaya siri' digelar sebagai bagian dari rangkaian penelitian yang melibatkan akademisi dan Pemerintah Kota Makassar. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Khyriad Makassar, Rabu 8 Juli 2026.

Kegiatan ini bertujuan merumuskan solusi dalam penanganan trauma korban kekerasan terhadap perempuan melalui pendekatan ilmiah yang dapat diterapkan dalam kebijakan pemerintah. Asisten 1 Pemerintah Kota Makassar, Andi Irwan Bangsawan, menilai tema yang diangkat dalam FGD tersebut sangat relevan dengan kondisi yang terjadi di tengah masyarakat.

Menurutnya, persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan isu serius yang membutuhkan solusi bersama melalui forum diskusi yang melibatkan berbagai pihak. “Tema dari kegiatan FGD ini sangat luar biasa dan penting untuk dibahas karena sering terjadi di sekitar kita, termasuk di Makassar. Karena itu harus ada solusi, dan melalui FGD inilah kita mendiskusikan bersama langkah-langkah penyelesaiannya. Kekerasan terhadap perempuan dan anak, baik fisik, psikis, seksual maupun ekonomi, merupakan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Jika korban dibiarkan menanggung sendiri luka dan traumanya, maka kita sedang membiarkan masa depannya hancur,” ujar Andi Irwan Bangsawan.

Ia menambahkan, pemulihan trauma menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mengembalikan produktivitas, rasa percaya diri, serta modal sosial para korban. Menurutnya, upaya menciptakan sumber daya manusia yang unggul tidak akan tercapai apabila sebagian masyarakat, khususnya perempuan, masih hidup dalam bayang-bayang trauma akibat kekerasan.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam FGD, hingga tahun 2025 tercatat sebanyak 1.222 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Makassar. Dari jumlah tersebut, sekitar 400 kasus menimpa perempuan dan sekitar 700 kasus melibatkan anak sebagai korban. Kasus kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi bentuk kekerasan yang paling dominan, meski meningkatnya angka pelaporan juga menunjukkan keberanian masyarakat untuk melaporkan tindak kekerasan yang terjadi.

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Institut Ilmu Sosial dan Bisnis Andi Sapada, Khaerul, mengatakan hasil FGD akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan yang nantinya diserahkan kepada Pemerintah Kota Makassar sebagai bahan masukan dalam penanganan dan pencegahan trauma kekerasan terhadap perempuan.

“Setelah FGD ini, hasil pembahasannya akan kami susun dalam bentuk policy brief yang akan diserahkan kepada Pemerintah Kota Makassar sebagai saran dan masukan dalam penanganan serta pencegahan trauma kekerasan terhadap perempuan. Selain itu, hasil penelitian ini juga akan kami terbitkan dalam jurnal ilmiah terakreditasi Q1 dan dibukukan agar dapat menjadi referensi bagi berbagai pihak,” kata Khaerul.

Khaerul menjelaskan, penelitian tersebut melibatkan tiga disiplin ilmu yang berbeda, yakni studi agama, sosiologi, dan psikologi. Pendekatan multidisiplin tersebut menjadi salah satu pertimbangan sehingga penelitian ini berhasil memperoleh pendanaan dan lolos dalam program penelitian yang dijalankan.

Selain itu, tim peneliti juga berkolaborasi dengan sejumlah pembantu peneliti yang berasal dari kalangan pakar hukum dan psikologi. Mereka memiliki pengalaman dalam pendampingan penyintas kekerasan serta jaringan yang kuat dengan berbagai pihak yang menangani kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Penelitian ini ditargetkan rampung pada September mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....