Mahasiswa Perlu Merintis Karier sejak Kuliah

  • 22 Jun 2026 10:23 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Mahasiswa dinilai perlu mulai merintis karier sejak masih berada di bangku kuliah, bukan menunggu hingga lulus. Dengan mempersiapkan diri lebih awal, mereka akan memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin ketat. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Agus Arman, M.Si., Ketua/Rektor STIE Nusantara Makassar dalam dialog Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar pada hari Sabtu, 20 Juni 2026

Menurut Dr. Agus berdasarkan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia akademik, terdapat dua kategori mahasiswa dalam menjalani perkuliahan. Kelompok pertama adalah mahasiswa yang memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi, memperluas relasi, serta aktif mengikuti berbagai kegiatan yang dapat menunjang karier di masa depan. Sementara itu, kelompok kedua cenderung hanya berfokus pada penyelesaian studi tanpa berupaya mengembangkan kemampuan di luar ruang kelas. Padahal, pengalaman organisasi, magang, pelatihan, hingga keterlibatan dalam kegiatan sosial menjadi nilai tambah yang sangat dibutuhkan di dunia kerja saat ini.

“Kelompok pertama adalah mahasiswa yang fokus menyelesaikan kuliah, kemudian baru mulai mencari pekerjaan setelah lulus. Sementara kelompok kedua adalah mahasiswa yang sejak masih kuliah sudah menyiapkan masa depannya, sehingga ketika menyelesaikan pendidikan mereka telah memiliki pekerjaan atau bahkan usaha sendiri,” ujarnya.

Ia menilai kelompok kedua merupakan contoh yang patut diteladani karena mampu memanfaatkan masa perkuliahan sebagai proses pengembangan diri sekaligus membangun karier. Dengan demikian, mereka tidak perlu menunggu prosesi wisuda untuk mulai memikirkan pekerjaan.

Dalam konteks kewirausahaan, Dr. Agus menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini semakin besar. Mayoritas mahasiswa berasal dari Generasi Z yang tumbuh bersama internet dan media sosial. Meskipun memiliki akses informasi yang luas, mereka juga harus menghadapi persaingan yang jauh lebih kompetitif dibandingkan generasi sebelumnya.

Karena itu, pihak kampus terus mendorong mahasiswa untuk mengubah pola pikir dari job seeker atau pencari kerja menjadi job creator atau pencipta lapangan kerja.“Di Kampus STIE Nusantara Makassar, Ia selalu mendorong mahasiswa agar sejak masih berproses di bangku kuliah mulai membangun usaha dan menciptakan peluang kerja, bukan hanya mempersiapkan diri untuk melamar pekerjaan,” katanya.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa salah satu lulusan baru di kampusnya telah berhasil menjalankan usaha dengan omzet yang terus berkembang serta mempekerjakan beberapa karyawan.Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa tidak harus menunggu lulus dan memperoleh pekerjaan untuk merintis karier. Dengan memanfaatkan pengetahuan, kreativitas, serta keberanian memulai usaha sejak di bangku kuliah, mereka memiliki peluang untuk menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri maupun orang lain

“Saya merasa bangga karena mahasiswa kami di STIE Nusantara Makassar setelah menjadi sarjana bukan hanya berpikir melamar menjadi PNS atau bekerja di perusahaan, tetapi sudah datang dengan mengatakan bahwa usahanya telah berjalan dan memiliki tiga orang karyawan. Bahkan ada pelamar kerja dari perguruan tinggi negeri yang ingin bergabung di usahanya,” ungkapnya.

Selain itu, Dr. Agus menilai mahasiswa yang aktif mengembangkan kemampuan selama kuliah terbukti lebih siap memasuki dunia kerja dibandingkan mereka yang hanya berfokus mengejar nilai akademik sempurna. Menurutnya, mahasiswa tidak harus memperoleh nilai A pada seluruh mata kuliah. Nilai yang baik tetap penting, namun pengalaman organisasi, keterampilan, dan kemampuan membangun usaha akan menjadi nilai tambah yang sangat berharga.

“Kalau harus memilih, saya akan mengatakan kepada mahasiswa bahwa tidak semua mata kuliah harus mendapat nilai A. Tidak masalah jika ada nilai B atau bahkan C, selama setelah menjadi sarjana kamu mampu membuktikan bahwa kamu bukan hanya pencari kerja, melainkan mampu menciptakan lapangan kerja,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa banyak perusahaan menetapkan persyaratan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal sekitar 3,00. Oleh karena itu, mahasiswa yang telah memenuhi standar tersebut tidak perlu merasa cemas, IPK bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dalam memperoleh pekerjaan. Selain prestasi akademik, perusahaan umumnya juga mempertimbangkan pengalaman, kemampuan komunikasi, keterampilan yang relevan, serta sikap dan etos kerja calon karyawan.

“Kalau mahasiswa sudah memperoleh nilai A dan program studinya terakreditasi baik sekali, itu sebenarnya sudah sangat memenuhi standar. Yang lebih penting adalah bagaimana selama kuliah mereka juga membangun kompetensi dan pengalaman,” katanya.

Melalui Program Studi Manajemen dengan kekhususan kewirausahaan, kampus STIE Nusantara Makassar terus memberikan pendampingan, monitoring, dan mentoring kepada mahasiswa agar mampu membangun usaha sejak dini. Harapannya, sebelum menyelesaikan pendidikan, mahasiswa telah memiliki bekal yang cukup untuk menjadi wirausahawan mandiri sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....