Harmonisasi Qi Qing Sesuai Jalan Suci dalam Ajaran Agama Konghu

  • 07 Jun 2026 06:29 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar – Harmonisasi Qi Qing atau tujuh perasaan manusia dalam ajaran Agama Konghucu menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter dan kehidupan yang selaras dengan Jalan Suci (Dao). Hal tersebut disampaikan oleh Js. dr. Erwiani, Sp.KJ saat menjadi narasumber dalam siaran Mimbar Agama Khonghucu di PRO1 RRI Makassar, edisi Sabtu, 6 Juni 2026.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki berbagai perasaan yang merupakan anugerah, namun perlu diarahkan agar tidak melampaui batas dan tetap berlandaskan nilai kebajikan. Menurut dr. Erwiani, konsep Qi Qing mencakup tujuh perasaan dasar manusia, yaitu senang, marah, sedih, takut, cinta, benci, dan keinginan.

Ketujuh perasaan tersebut merupakan bagian dari kodrat manusia yang tidak dapat dihilangkan, tetapi harus diharmonisasikan melalui pengendalian diri dan pembinaan moral. Ia menegaskan bahwa ajaran Konghucu tidak mengajarkan manusia untuk menekan emosi, melainkan mengelolanya dengan bijaksana sesuai tuntunan kebajikan.

Tujuh perasaan manusia adalah bagian dari kodrat yang diberikan Tuhan. Yang terpenting bukan menghilangkannya, tetapi bagaimana kita mampu mengendalikan dan mengharmonisasikannya sehingga selaras dengan Jalan Suci dan melahirkan perilaku yang baik,” ujar Js. dr. Erwiani, Sp.KJ.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ketidakseimbangan dalam mengelola emosi dapat memicu berbagai persoalan dalam kehidupan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dunia kerja. Sebaliknya, seseorang yang mampu mengendalikan perasaannya akan lebih mudah membangun hubungan yang harmonis, menghargai sesama, dan mengambil keputusan secara bijaksana. Oleh karena itu, pendidikan karakter dan pembinaan spiritual memiliki peran penting dalam membentuk pribadi yang luhur.

Dalam perspektif ajaran Konghucu, keharmonisan perasaan juga erat kaitannya dengan praktik kebajikan seperti Ren (cinta kasih), Yi (kebenaran), Li (kesusilaan), dan Zhi (kebijaksanaan). Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman agar setiap emosi yang muncul dapat diwujudkan dalam tindakan yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Dengan demikian, kehidupan yang damai dan penuh toleransi dapat tercipta di tengah masyarakat yang beragam.

Ketika perasaan manusia diarahkan oleh nilai-nilai kebajikan, maka emosi tidak menjadi sumber konflik, tetapi justru menjadi kekuatan untuk membangun kasih sayang, saling menghormati, dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan bersama,” kata Js. dr. Erwiani, Sp.KJ.

Sebagai penutup, dr.Erwiani mengajak masyarakat untuk menjadikan pengendalian diri sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk membangun karakter yang lebih baik melalui pembiasaan nilai-nilai kebajikan, sehingga tujuh perasaan yang dimiliki manusia dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan kedamaian bagi diri sendiri maupun lingkungan. “Mari kita belajar mengenali dan mengendalikan setiap perasaan yang ada dalam diri kita agar selalu berjalan di Jalan Suci. Dengan hati yang penuh kebajikan, kita dapat membangun keluarga yang harmonis, masyarakat yang rukun, serta menjadi manusia yang membawa manfaat bagi sesama,” pesan Js. dr. Erwiani, Sp.KJ.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....