DP3A Makassar Ungkap Fenomena Anak SMP Ingin Nikah Sesama Jenis
- 06 Jun 2026 11:10 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, Ita Isdiana Anwar, mengungkapkan keprihatinannya terhadap maraknya kasus hubungan sesama jenis yang melibatkan anak dan remaja yang ditangani pihaknya. Menurutnya, fenomena tersebut menjadi tantangan tersendiri karena banyak korban yang sudah memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan pasangannya.
Ita mengatakan, pihaknya kerap menemukan kasus hubungan sesama jenis, baik laki-laki dengan laki-laki maupun perempuan dengan perempuan. Kondisi tersebut dinilai memprihatinkan karena proses penanganannya tidak semudah kasus perlindungan anak pada umumnya.
"Ada juga laki-laki sama laki-laki, ada perempuan sama perempuan. Ini yang membuat kita miris. Kalau kami ambil mereka masuk di RPS atau rumah aman, yang membuat saya stres saat asesmen awal mereka bilang, 'bu tolong saya jangan disimpan di sini, saya harus ketemu dengan pasangan saya'," kata Ita, Sabtu, 6 Juni 2026.
Dalam sejumlah kasus yang ditangani, DP3A menemukan adanya pelaku yang secara aktif mendekati dan memengaruhi korban. Ita menjelaskan, sebagian korban merupakan anak perempuan yang memiliki prestasi dan penampilan baik, namun terlibat dalam hubungan sesama jenis setelah mendapatkan perhatian yang dianggap lebih dari lingkungan sekitarnya.
Menurutnya, faktor kurangnya perhatian dan komunikasi dalam keluarga menjadi salah satu penyebab yang kerap ditemukan dalam proses asesmen. Anak-anak yang merasa kurang diperhatikan cenderung mencari sosok lain yang dianggap peduli terhadap mereka, termasuk melalui pemberian hadiah, kuota internet, maupun perhatian sehari-hari.
Ita menambahkan, orang tua sering kali lebih waspada ketika anak perempuan bergaul dengan laki-laki, tetapi tidak menaruh kecurigaan ketika anak mereka yang menghabiskan waktu bersama teman sesama jenis. Padahal, menurutnya, pengawasan dan komunikasi tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi psikologis anak.
Ita juga mengaku pernah menangani kasus seorang anak perempuan yang diusir dari rumah kerabatnya dan kemudian dijemput oleh Tim Reaksi Cepat (TRC). Dari hasil pendampingan, diketahui anak tersebut berasal dari keluarga yang mengalami berbagai persoalan, mulai dari pernikahan usia dini, perceraian orang tua, hingga kondisi ayah yang mengalami gangguan kejiwaan.
Dalam kasus tersebut, pelaku yang memengaruhi korban diketahui merupakan tetangganya sendiri. Awalnya, korban diajak makan bersama dan diberikan berbagai kebutuhan hingga akhirnya muncul ketergantungan emosional yang berkembang menjadi hubungan yang lebih dekat.
"Yang membuat kami merinding saat asesmen, mereka bilang, 'bunda jangan pisahkan saya dengan pasangan saya karena kami sudah saling sayang, saling cinta, kami sudah mulai kumpul uang untuk nikah'. Bahkan ada yang mengatakan ingin ke Thailand karena menganggap di sana pernikahan sesama jenis diperbolehkan. Itu yang menyampaikan masih anak SMP loh," ujar Ita.
Karena itu, Ita mengajak para orang tua untuk memperkuat komunikasi dalam keluarga. Ia menekankan pentingnya membangun kedekatan dengan anak melalui percakapan sederhana setiap hari, termasuk saat makan bersama. Menurutnya, perhatian dan komunikasi yang intens dari keluarga menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah anak mencari perhatian dan kenyamanan dari pihak lain yang berpotensi membawa pengaruh negatif.
"Minimal saat di meja makan, tanya anaknya, nak bagaimana belajarnya di sekolah? Kapan ujiannya?. Jadi tolong bangun komunikasi dan interaksi jangan cuma main HP,"imbaunya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....