Pengguna Narkotika Adalah Orang Sakit, Bukan Penjahat

  • 04 Jun 2026 15:47 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Stigma negatif terhadap pengguna narkotika dinilai menjadi hambatan serius dalam proses pemulihan. Pandangan masyarakat perlu diluruskan: pengguna narkotika adalah orang yang sakit dan berhak mendapat pertolongan.

Konselor Adiksi Ahli Madya BNNP Sulawesi Selatan, Nurdiana F. Nahdalipa, menegaskan hal itu dalam Dialog SANKSI RRI Pro 1 Makassar, Rabu, 3 Juni 2026, seraya mengingatkan bahwa adiksi narkotika secara resmi memiliki kode penyakit dalam klasifikasi internasional ICD yang diakui Kementerian Kesehatan.

"Pengguna adalah orang yang sakit. Orang yang sakit. Kode penyakitnya ada di ICD terbitan Kemenkes, jadi bukan dibuat-buat," ujar Nurdiana.

Nurdiana menjelaskan bahwa narkotika menyerang tiga fungsi utama otak: pikiran, perasaan, dan perilaku. Inilah yang menyebabkan pengguna cenderung menarik diri dari pergaulan sosial, bukan karena pilihan sadar, melainkan akibat kerja zat di dalam otak.

Pada tahap kecanduan paling parah, dampaknya dapat berujung pada gangguan kejiwaan permanen. Dalam kondisi tersebut, penanganan gangguan jiwa harus didahulukan sebelum proses rehabilitasi narkotika dapat dilanjutkan.

Terkait risiko kambuh, Nurdiana mengingatkan bahwa pemulihan bukan berarti bebas sepenuhnya. Pengguna yang telah pulih dua hingga tiga tahun pun masih berpotensi kambuh karena sifat narkotika sebagai penyakit otak yang rentan kambuh kembali.

"Ketika seseorang sudah dikatakan pulih untuk jangka waktu tertentu, kita tetap harus waspadai karena narkotika adalah penyakit otak yang sifatnya kekambuhan," kata Nurdiana.

Untuk mengatasi stigma, Nurdiana mendorong seluruh elemen masyarakat aktif memberikan edukasi dan merangkul para pengguna. Menurutnya, tugas ini bukan hanya tanggung jawab BNN, melainkan tanggung jawab bersama.

"Orang yang menggunakan narkotika adalah orang sakit yang perlu dibantu, diobati, dirangkul, dan jangan diberikan stigma negatif. Itu tugas kita semua, bukan hanya tugas BNN," tegas Nurdiana.

Dukungan keluarga disebut sebagai faktor paling menentukan dalam proses pemulihan. Tanpa dukungan orang-orang terdekat, motivasi pengguna untuk berhenti dan bertahan dalam pemulihan jangka panjang akan sangat lemah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....