Tridharma Wajib, Bukan Pilihan bagi Dosen di Perguruan Tinggi

  • 05 Jun 2026 18:37 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar slogan Tridharma Perguruan Tinggi. Kewajiban ini melekat langsung pada beban kinerja setiap dosen yang dilaporkan tiap semester.

Wakil Rektor III Universitas Sawerigading Makassar, Dr. Adi Sumandiyar, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa pengabdian masyarakat hukumnya wajib bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Pelaksanaannya masuk dalam sistem pelaporan beban kinerja dosen setiap enam bulan sekali.

"Wajib hukumnya perguruan tinggi untuk mengadakan pengabdian kepada masyarakat," ujar Dr. Adi Sumandiyar dalam dialog Lintas Informasi Sulawesi Selatan di RRI Pro 1 Makassar, Selasa, 2 Juni 2026.

Menurutnya, terdapat empat tujuan utama pengabdian masyarakat. Pertama, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, pemberdayaan masyarakat melalui aplikasi teori dan model pengembangan. Ketiga, menjadi jembatan antara dunia akademisi dan lingkungan masyarakat. Keempat, meningkatkan kualitas hidup masyarakat dari sisi ekonomi maupun aksesibilitas layanan kesehatan.

Pembiayaan program dapat bersumber dari dana hibah Kemendikti Saintek maupun dana mandiri perguruan tinggi. Kerja sama dengan mitra pemerintah daerah dan lembaga swasta juga dimungkinkan dalam pelaksanaannya.

Universitas Sawerigading Makassar sendiri telah menjalankan sejumlah program pemberdayaan ekonomi konkret di berbagai wilayah Sulawesi Selatan. Salah satunya menyasar kelompok ibu-ibu pengrajin topi caping di Kabupaten Takalar.

"Kami memberikan bantuan mesin rajut dan strategi pengelolaan kepada ibu-ibu pengrajin topi caping di Kabupaten Takalar, termasuk membantu akses penjualan secara offline maupun online," ungkap Dr. Adi Sumandiyar.

Program berikutnya dijalankan di Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, dengan fokus pengolahan nangka menjadi kerupuk. Kampus memberikan bantuan mesin pengolahan sekaligus mendampingi distribusi hasil produksi masyarakat setempat.

Di Kota Makassar, program serupa menyasar nelayan di Pulau Lumu-lumu, kepulauan terluar Kota Makassar. Hasil tangkap ikan diolah menjadi abon, kemudian dikemas dan dipasarkan melalui pasar tradisional maupun platform jual beli daring.

"Masyarakat di Pulau Lumu-lumu kami dampingi mulai dari pengolahan ikan menjadi abon, pengemasan, hingga pemasarannya secara online," kata Dr. Adi Sumandiyar.

Ia menambahkan, seluruh program dirancang agar masyarakat mampu mengakses pasar secara mandiri dan berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan tagline Kemendikti Saintek saat ini, yakni kampus berdampak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....