Dr. Adi Sumandiyar: Akademisi Boleh Salah tapi Tak Boleh Bohong

  • 05 Jun 2026 18:36 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Maraknya kasus plagiarisme dan pemalsuan penelitian di konferensi internasional mendapat sorotan tajam dari kalangan akademisi Sulawesi Selatan. Integritas dinilai sebagai kunci utama yang tidak bisa ditawar dalam dunia riset perguruan tinggi.

Wakil Rektor III Universitas Sawerigading Makassar, Dr. Adi Sumandiyar, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa seorang dosen boleh melakukan kesalahan dalam riset, namun tidak dibenarkan berlaku tidak jujur. Pernyataan ini merespons kasus viral pemalsuan penelitian yang mengguncang sejumlah universitas besar di Indonesia belakangan ini.

"Akademisi itu boleh salah tapi tidak bisa berbohong. Itu yang harus dimiliki oleh setiap akademisi," tegas Dr. Adi Sumandiyar dalam dialog Lintas Informasi Sulawesi Selatan di RRI Pro 1 Makassar, Selasa, 2 Juni 2026.

Menurutnya, teknologi deteksi plagiarisme seperti Turnitin kini sudah mampu mengidentifikasi karya yang sekadar disalin dan diklaim sebagai hasil riset sendiri. Asesor jurnal dan penyelenggara konferensi pun dituntut memiliki integritas dan pengalaman memadai untuk membedakan karya orisinal dari plagiat.

Luaran dari program pengabdian masyarakat sendiri juga dapat dipublikasikan ke jurnal ilmiah sesuai lingkup disiplin ilmu masing-masing dosen. Jurnal khusus pengelolaan pengabdian masyarakat tersedia baik untuk rumpun ilmu sosial humaniora maupun eksakta.

"Hasil riset pengabdian masyarakat bisa dipublikasikan ke jurnal yang sesuai scopnya. Saya misalnya sering publikasi di International Journal of Socio-Economic Indonesia karena disiplin ilmu saya sosial humaniora," ujar Dr. Adi Sumandiyar.

Terkait konferensi internasional, ia menekankan pentingnya kesesuaian template publikasi dengan standar penyelenggara yang dituju. Kelalaian pada aspek ini kerap menjadi celah masuknya karya yang tidak memenuhi standar akademik, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dr. Adi Sumandiyar juga menyoroti bahwa Indonesia memiliki kekayaan isu riset yang sangat besar untuk dikembangkan. Mulai dari isu-isu terkini seperti sustainable development goals hingga potensi sumber daya lokal yang belum banyak diteliti.

"Saya menyayangkan ketika masih ada oknum yang melakukan copy paste. Di era digital ini hal itu tidak mesti ada lagi, terlebih kita sudah dimanjakan oleh fasilitas digital termasuk penggunaan metode AI," kata Dr. Adi Sumandiyar.

Penggunaan kecerdasan buatan, menurutnya, justru dapat membantu dosen memperkaya referensi dan menghasilkan jurnal berkualitas. Dengan riset yang bermutu, perkembangan karier akademik akan mengikuti secara alami.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....