Tradisi Penyambutan Jamaah Haji di Sulsel, Simbol Syukur dan Harapan Keberkahan
- 02 Jun 2026 18:40 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID Makassar– Kedatangan jamaah haji kloter pertama di Asrama Haji Sudiang Makassar, disambut penuh sukacita oleh keluarga dan masyarakat. Momen kepulangan para tamu Allah tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarat dengan tradisi dan nilai-nilai keagamaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat Sulawesi Selatan.
Dalam dialog di Radio Republik Indonesia (RRI), Ustaz Arifuddin Lewa Selasa, 2 Juni 2026 menjelaskan bahwa tradisi penyambutan jamaah haji merupakan bentuk rasa syukur atas selesainya pelaksanaan rukun Islam kelima oleh saudara-saudara yang kembali dari Tanah Suci. “Pertama tentu kita mengucapkan ahlan wa sawhlan, selamat datang kepada para duta-duta haji kita. Ini adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT karena mereka telah menunaikan ibadah haji,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat Sulawesi Selatan memiliki berbagai tradisi dalam menyambut jamaah haji. Ada yang menjemput langsung di bandara, ada pula yang menyuguhkan makanan khas seperti cucuru dan onde-onde sebagai simbol harapan akan keberkahan dan rezeki. “Semua itu menunjukkan kebahagiaan keluarga, sahabat, dan tetangga yang datang berbondong-bondong untuk mengucapkan selamat dan mendoakan agar menjadi haji yang mabrur,” katanya.
Terkait oleh-oleh yang dibawa jamaah haji, ia menilai bahwa yang paling utama sebenarnya adalah air zamzam dan kurma. “Kalau berbicara oleh-oleh, yang paling penting diterima adalah zamzam dan kurma karena itulah yang benar-benar identik dengan Makkah dan Madinah. Selebihnya banyak barang yang sebenarnya berasal dari berbagai negara, bahkan ada yang dari Indonesia,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ustadz Arifuddin Lewa menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. Ia menyebutkan beberapa indikator yang dapat dilihat setelah seseorang kembali dari Tanah Suci.
Menurutnya, kebiasaan baik selama di Makkah dan Madinah seharusnya tetap terbawa setelah pulang ke tanah air. Salah satunya adalah semangat melaksanakan salat berjamaah di masjid. “Ketika di Madinah, jamaah berusaha menyempurnakan salat Arba’in, yaitu 40 kali salat berjamaah di Masjid Nabawi. Semangat itu seharusnya tetap hidup ketika kembali ke daerah masing-masing,” ujarnya.
Predikat haji, lanjutnya, merupakan amanah yang besar. Karena itu, seorang haji dituntut untuk semakin jujur dan menjaga perilakunya di tengah masyarakat. “Kalau seorang haji tidak jujur, masyarakat pasti akan menilai negatif. Padahal gelar haji seharusnya menjadi cerminan akhlak yang baik dan keteladanan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual, melainkan momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. “Indikator haji mabrur terlihat dari perubahan sikap dan kebiasaan setelah pulang. Ibadah semakin baik, kejujuran semakin tinggi, dan akhlak semakin mulia. Itulah yang diharapkan dari seorang haji,” tutupnya.
Kepulangan jamaah haji ke Sulawesi Selatan tahun ini diharapkan membawa keberkahan, tidak hanya bagi keluarga masing-masing, tetapi juga bagi masyarakat luas melalui keteladanan dan semangat ibadah yang mereka bawa dari Tanah Suci.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....