Melalui Kurban, Umat Islam Dilatih Ikhlas dan Peduli Sesama
- 28 Mei 2026 12:20 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Hari Raya Idul Adha selalu identik dengan ibadah kurban yang sarat makna spiritual dan sosial. Kepada RRI Ustadz Arifudin Lewa menjelaskan kurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menjadi sarana melatih keikhlasan dan kepedulian kepada sesama.
Menurutnya, makna kurban dapat dipahami melalui sejarah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah tersebut menjadi simbol ketundukan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah.
“Korban itu berasal dari ungkapan Nabi Ibrahim AS. Kala itu beliau pernah bersedekah seratus ekor unta bahkan seribu ekor kambing. Karena banyak dipuji masyarakat, beliau berkata bahwa jika memiliki anak pun akan dikorbankan di jalan Allah,” ujar Ustaz Arifudin Lewa, di Makassar Kamis, 28 Mei 2026.
Ia menjelaskan, saat itu Nabi Ibrahim menganggap mustahil dirinya memiliki anak karena usia istrinya yang sudah lanjut. Namun, Allah kemudian menganugerahkan Nabi Ismail AS. Setelah beberapa waktu, Nabi Ibrahim mendapat mimpi selama tiga malam berturut-turut yang diyakini sebagai wahyu dari Allah.
Dalam kisah tersebut, Nabi Ibrahim menyampaikan mimpi itu kepada Ismail. Sang anak justru menunjukkan sikap penuh ketundukan.
“Jika itu memang perintah Allah, maka laksanakanlah. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar,” tutur ustaz menirukan makna dialog Nabi Ismail.
Dari peristiwa itu, lanjutnya, terdapat pelajaran besar tentang keikhlasan antara seorang ayah dan anak. Secara manusiawi, tidak mungkin seorang ayah tega membunuh anaknya, begitu pula seorang anak tentu tidak ingin disembelih. Namun karena keikhlasan dan ketaatan kepada Allah, keduanya rela menjalankan perintah tersebut.
“Keikhlasan itu sama dengan kerelaan dalam mengeluarkan harta untuk dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerima,” jelasnya.
Selain membahas makna kurban, ustaz Ariffidin Lewa tersebut juga menjelaskan perbedaan antara kurban dan sedekah biasa. Menurutnya, ibadah kurban memiliki waktu khusus, yakni dilaksanakan setiap tanggal 10 Zulhijjah dan hari tasyrik.
“Sementara sedekah tidak mengenal waktu dan tempat. Sedekah bisa dilakukan kapan saja,” katanya.
Ia juga mencontohkan bahwa keikhlasan dalam bersedekah bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ketika seseorang dengan tulus memberikan barang miliknya kepada orang lain tanpa merasa berat.
Melalui momentum Idul Adha, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami kurban sebagai ritual tahunan, tetapi juga sebagai pembelajaran untuk menumbuhkan rasa ikhlas, rela berkorban, dan peduli terhadap sesama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....