Waisak sebagai Momentum Transformasi Diri dan Menebar Kebajikan
- 20 Mei 2026 13:41 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar - Perayaan Hari Raya Waisak 2569 BE menjadi momentum refleksi mendalam bagi umat Buddha untuk melakukan transformasi diri menuju kehidupan yang lebih bijaksana dan penuh welas asih. Hal tersebut dibahas dalam program Mimbar Buddha PRO1 RRI Makassar edisi Selasa, 19 Mei 2026 yang dipandu Upc. Arwin Hidayat Wirawan dengan menghadirkan narasumber Romo Hemajayo Thio. Dalam dialog tersebut, Romo menekankan bahwa Waisak bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan kesempatan memperbaiki kualitas batin dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Romo Hemajayo Thio, transformasi diri dimulai dari kemampuan manusia mengenali kelemahan serta mengendalikan hawa nafsu yang dapat memicu penderitaan. “Ajaran Buddha mengajarkan pentingnya kesadaran diri agar manusia mampu hidup lebih damai, sederhana, dan tidak mudah dikuasai emosi negatif. Momentum Waisak mengingatkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan dalam diri sendiri,” ujarnya.
Dalam perbincangan tersebut, Romo juga mengulas makna tiga peristiwa suci Waisak yang dikenal sebagai Tri Suci Waisak, yakni kelahiran, pencapaian pencerahan, dan wafatnya Siddharta Gautama. “ Ketiga peristiwa itu menjadi simbol perjalanan spiritual manusia dalam mencari kebijaksanaan sejati. Waisak mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan membawa manfaat bagi sesamanya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa transformasi diri tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan melalui latihan batin yang konsisten seperti meditasi, pengendalian ucapan, serta perbuatan baik. “Kehidupan modern saat ini sering membuat manusia mudah larut dalam tekanan, persaingan, dan amarah. Karena itu, nilai-nilai Waisak menjadi sangat relevan untuk menghadirkan ketenangan dan keseimbangan hidup. Saat hati dipenuhi welas asih, maka kebencian perlahan akan hilang,” katanya.
Selain refleksi pribadi, Waisak juga menjadi momentum memperkuat hubungan sosial antarumat beragama. Dalam dialog tersebut, Romo mengajak masyarakat untuk terus menjaga toleransi dan saling menghargai perbedaan sebagai kekuatan bangsa Indonesia. Ia menilai semangat persaudaraan harus terus dirawat di tengah keberagaman masyarakat agar tercipta kehidupan yang harmonis dan damai.
Menurut Romo Hemajayo Thio, tindakan sederhana seperti membantu sesama, menjaga ucapan, hingga menghormati orang lain merupakan bentuk nyata praktik Dharma. “Kebaikan sekecil apa pun akan membawa dampak besar bila dilakukan dengan ketulusan,” ungkapnya dalam siaran tersebut.
Dipandu dengan hangat oleh Upc. Arwin Hidayat Wirawan, dialog berlangsung penuh pesan moral dan spiritual yang mengajak pendengar untuk menjadikan Waisak sebagai ruang introspeksi diri. Menutup perbincangan, Romo Hemajayo Thio berharap momentum Waisak tahun ini dapat menjadi titik awal bagi masyarakat untuk memperbaiki diri dan memperluas kepedulian terhadap sesama. “Mari menjadikan Waisak sebagai cahaya penerang batin agar kita mampu hidup lebih bijaksana, damai, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitar,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....