Harmoni Kemerdekaan, Lintas Agama Nyalakan Doa untuk Indonesia yang Damai dan Maju
- 17 Agt 2026 18:07 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan upacara dan kegiatan seremonial, tetapi juga melalui doa, refleksi, dan penguatan persaudaraan. Pesan tersebut mengemuka dalam “Harmoni Kemerdekaan: Malam Renungan & Doa Bersama Lintas Agama” yang digelar di Taman Pakui, Jalan A.P. Pettarani, Kota Makassar, Minggu, 16 Agustus 2026 malam.
Kegiatan yang mengusung tema “Merawat Harmoni, Meneguhkan Persatuan untuk Indonesia Maju” tersebut menjadi ruang bersama bagi tokoh lintas agama untuk merefleksikan makna kemerdekaan sekaligus meneguhkan komitmen menjaga kerukunan dan persatuan bangsa. Harmoni Kemerdekaan diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Provinsi Sulawesi Selatan, serta didukung Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Selatan.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kanwil Kemenag Sulsel H. Ali Yafid, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar H. Muhammad bersama Ketua DWP Kemenag Kota Makassar dan jajaran, Ketua FKUB Sulsel, serta tokoh lintas agama.
Dalam kesempatan tersebut, Kakankemenag Kota Makassar H. Muhammad membacakan renungan suci yang mengajak seluruh peserta menjadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi dan membawa nilai-nilai persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.“Saudara-saudaraku, mari kita tanyakan ke dalam hati, apa yang akan kita bawa ketika pulang dari sini. Bawalah cahaya. Bukan hanya cahaya dari lilin, tetapi cahaya yang ada di dalam hati,” ungkapnya.
Menurut H. Muhammad, cahaya tersebut harus hadir dalam berbagai ruang kehidupan, mulai dari keluarga, pekerjaan, lingkungan, masyarakat hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia mengajak peserta tidak membiarkan rasa haru dan persaudaraan yang muncul dalam renungan berhenti di tempat kegiatan.“Jika malam ini kita merasa tersentuh, jangan biarkan perasaan itu berhenti di sini. Bawalah pulang. Jika kita merasakan persaudaraan, bawalah persaudaraan itu ke dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita merasakan cinta tanah air, jadikan cinta itu sebagai tindakan,” pesannya.
Ia juga mengajak seluruh peserta pulang dengan hati yang lebih lembut, tangan yang lebih ringan untuk menolong, kata-kata yang lebih baik, serta langkah yang membawa kedamaian.“Indonesia harus menjadi rumah untuk kita semua,” tegasnya.
Renungan semakin khidmat ketika peserta menyalakan cahaya sebagai simbol harapan bersama. H. Muhammad menegaskan, cahaya yang dinyalakan malam itu bukan sekadar simbol, melainkan representasi harapan untuk masa depan Indonesia.“Sesungguhnya yang kita nyalakan malam ini bukan hanya lilin. Kita menyalakan harapan untuk Indonesia, untuk anak-anak kita, untuk masa depan agar negeri ini selalu dipenuhi kedamaian, persaudaraan, kebajikan dan kasih,” tuturnya.
Ia kemudian mengajak peserta melihat cahaya yang berada di tangan masing-masing dan menyadari bahwa ketika seluruh cahaya berkumpul, terdapat begitu banyak harapan, hati dan doa yang bermuara pada satu nama: Indonesia. Kakanwil Kemenag Sulsel H. Ali Yafid menyampaikan rasa syukur karena kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antartokoh dan umat beragama.“Bersyukur kita bisa bersilaturahmi pada Harmoni Kemerdekaan. Kita melangitkan doa yang dipanjatkan dari tokoh-tokoh agama,” ujarnya.
H. Ali Yafid juga mengajak seluruh pihak memberikan perhatian kepada masyarakat yang terdampak bencana, termasuk daerah yang mengalami gempa di NTT . Menurutnya, semangat kerukunan harus diwujudkan melalui kepedulian dan aksi nyata.“Mudah-mudahan saudara-saudara kita yang terdampak mendapatkan tempat yang layak. Kita akan melakukan sesuatu untuk meringankan beban dan membantu saudara-saudara kita yang ada di sana,” katanya.
Ia menilai kondisi kerukunan umat beragama di Sulawesi Selatan telah menunjukkan perkembangan yang baik dan harus terus dipelihara bersama.“Sulsel, alhamdulillah, harmoni kerukunan sudah luar biasa. Apalagi sekarang kita ingin Indonesia diberikan kebersamaan, adil dan makmur, serta rakyatnya sejahtera,” lanjutnya.
Ketua Permabudhi Sulawesi Selatan dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan keagamaan dan kebudayaan yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat perlu terus dilaksanakan. Menurutnya, keberagaman agama harus menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan dan kecintaan terhadap Indonesia.“Kita hadir dengan semangat keberagaman, tetapi tetap bersatu dan cinta Indonesia,” pesannya.
Sementara itu, Wakil Ketua FKUB Kota Makassar menegaskan bahwa kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kemerdekaan untuk hidup harmonis di tengah perbedaan. Ia menilai keberadaan FKUB memiliki peran penting dalam menjaga hubungan antarpemeluk agama dan memastikan keberagaman menjadi kekuatan bagi kehidupan bermasyarakat.“81 tahun kita merdeka dari penjajahan Belanda, tetapi rupanya kita belum sepenuhnya merdeka secara harmoni. Karena itu, mudah-mudahan hati kita benar-benar merdeka di hari kemerdekaan Republik Indonesia,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk “merdeka dalam perbedaan”, sehingga semangat harmoni sebagaimana tema kegiatan dapat terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....