Kurangi Sampah, TK Negeri Tamalate Budayakan Penggunaan Tumbler dan Lunch Box
- 11 Mei 2026 08:07 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Demi mendukung program Pemerintah Kota Makassar dan menghadirkan kepedulian terhadap lingkungan, TK Negeri Tamalate Makassar tidak membiarkan anak-anak membawa sampah masuk ke sekolah. Kepala Sekolah TK Negeri Tamalate, Cahaya mengaku larangan ini sudah disampaikan kepada seluruh orang tua sebelum anak-anak masuk sekolah.
"Jadi kami melarang anak-anak untuk membawa snack ke sekolah. Boleh membawa wafer atau roti tapi sudah didalam bentuk tempat makan, begitupun dengan susu maupun minuman bersoda semuanya harus di dalam tumbler,"kata Cahaya, Senin 11 Mei 2026.
Dikatakan meskipun ada ditemukan anak-anak yang membawa makanan dan minuman kemasan, maka akan disita dan bisa diambil kembali saat pulang sekolah. "Jadi kami memang sudah meminimalisir sampah di sekolah, sejak awal seperti itu," ucap Cahaya.
Di sisi lain, ia menuturkan setiap kelas sudah dilengkapi dengan air galon sehingga untuk siswa yang membutuhkan air minum bisa mengisi tumbler yang dibawa dari rumah. "Kami siapkan di setiap kelas ada galon, jadi kalau air di tumblernya kurang atau sudah habis bisa di isi ulang pakai air galon,"jelasnya.
Sementara itu, Camat Tamalate, Muhammad Aril Syahbani mengapresiasi program TK Negeri Tamalate salah satunya kurikulum pengembangan diri melalui kegiatan Gelar Karya dan Market Day yang berlangsung Sabtu 9 Mei 2026. Namun ia berharap agar anak-anak bisa diajarkan sejak dini dalam memilah dan mengelola sampah.
"Jadi harapannya kita sampaikan juga kepada orang tua untuk bagaimana bisa membantu sekolah dalam mengedukasi anak-anak untuk memilah sampah di rumah," bebernya.
Aril Syahbani menjelaskan saat ini Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang hanya bisa menerima sampah residu sehingga tidak ada lagi sampah organik maupun non organik yang dibuang di TPA. "Karena harapannya untuk sampah organik dan non organik bisa bernilai ekonomi. Misalnya sampah organik bisa jadi pupuk untuk urban farming sedangkan yang non organik seperti plastik bisa dijual dan bernilai ekonomi,"ungkap Aril.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....