Budaya Bersih Sebagai Manifestasi Iman
- 08 Mei 2026 13:02 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Kebersihan dalam Islam bukan sekadar urusan estetika atau kesehatan fisik semata, melainkan sebuah prinsip fundamental yang menjadi fondasi tegaknya agama. Hal ini menjadi benang merah dalam dialog "Nuansa Fajar" Progrma 4 RRI Makasar yang disiarkan melalui Frequensi FM 92.5 Mhz, Jumat, 8 Mei 2026, dengan menghadirkan narasumber Dr. dr. H. Muh. Khidri Alwi, M.Kes., MA, Mubalig sekaligus Dosen Universita Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
Dalam dialog yang bertajuk "Budaya Bersih Sebagai Manifestasi Iman", Ustad Khidri menekankan bahwa Allah SWT adalah Zat Yang Maha Suci, sehingga setiap hamba yang ingin mendekat kepada-Nya wajib berada dalam kondisi bersih. Menurutnya, konsep bersih dalam Islam mencakup dua dimensi besar: Maknawiyah (secara fisik) dan Rohaniah (secara spiritual).
Ustad Khidri menjelaskan bahwa ritual wudhu sebelum salat adalah contoh nyata bagaimana Islam mengintegrasikan pembersihan fisik dan pengguguran dosa. Air wudhu tidak hanya membasuh debu dan keringat setelah beraktivitas, tetapi juga menjadi wasilah pembersihan panca indra dari kemaksiatan.
"Nabi Muhammad SAW bersahda bahwa siapa yang berwudhu, saat dia membasuh tangannya, maka jatuhlah dosa-dosa tangannya bersama tetesan air itu. Begitu pula saat membasuh wajah, jatuh dosa dari matanya, hingga saat membasuh kaki, jatuh pula dosa dari langkah kakinya," ujar Dr. Khidri.
Lebih lanjut, ia mengutip surah Al-Baqarah ayat 222 yang menegaskan bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri. Kebersihan ini harus diimplementasikan secara bertahap, mulai dari lingkungan terkecil hingga kesiapan diri menghadap Tuhan. Di lingkugan misalnya bagaimana, Menjaga kebersihan rumah dan halaman rumah, kemudian menjaga kebersihan Diri Sendiri dengan Mandi secara rutin untuk menghilangkan kotoran yang melekat. dan tempat ibadah dengan Memastikan pakaian dan tempat sujud bebas dari najis.
Menutup Dialognya, Dr. Khidri mengingatkan sebuah hadis riwayat Thabrani dan Muslim yang menyebutkan bahwa Islam didirikan di atas prinsip kebersihan. Tanpa kesadaran menjaga kebersihan, kesempurnaan iman seorang muslim patut dipertanyakan.
"Islam itu dibangun berasaskan kebersihan. Maka sebagai seorang muslim, menjaga kebersihan adalah sebuah keharusan yang dimulai dari diri sendiri. Kita adalah makhluk yang terus-menerus melakukan pencucian diri karena kita akan selalu menghadap kepada Allah," pungkasnya.
Dengan menjadikan kebersihan sebagai budaya, seorang muslim tidak hanya menjaga kesehatan raganya, tetapi juga menjaga kesucian hatinya demi meraih rida Sang Pencipta. Dialog "Nuansa Fajar" edisi ini memberikan pesan kuat bahwa kebersihan bukanlah pilihan, melainkan gaya hidup yang melekat pada identitas seorang beriman. Dengan mengintegrasikan kebersihan fisik dan kesucian jiwa, seorang Muslim diharapkan mampu menampilkan wajah Islam yang indah, sehat, dan menyejukkan bagi lingkungan sekitarnya.
Menutup perjumpaan tersebut, Dr. Khidri mengajak seluruh masyarakat untuk tidak lagi memandang remeh urusan kebersihan, sekecil membuang sampah pada tempatnya atau menjaga kesucian wudhu. Sebab, dalam setiap tetesan air pembersih dan setiap sudut ruang yang rapi, terdapat cinta Allah yang dijanjikan bagi hamba-hamba-Nya yang gemar mensucikan diri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....