FK UMI Terapkan Active Learning Berbasis Teknologi Digital

  • 04 Mei 2026 14:30 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Dunia pendidikan kedokteran saat ini telah mengalami pergeseran paradigma dari model satu arah menjadi sistem pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student-centered learning). Melalui semangat partisipasi semesta dan dukungan teknologi digital seperti AI, mahasiswa didorong untuk keluar dari ruang kelas dan belajar langsung dari masyarakat.

Dosen Biokimia di Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (FK UMI), Sigit Dwi Pramono, kepada RRI mengungkapkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di era saat ini menjadi tantangan besar, terutama dalam memastikan teknologi tersebut digunakan secara bijak. Meskipun AI sangat membantu, mahasiswa dan calon dokter harus tetap berfungsi sebagai filter utama karena informasi yang dihasilkan belum tentu sepenuhnya akurat atau mutakhir. Senin, 04 Mei 2026.

“Kalau mungkin masyarakat awal wajar bertanya ke di internet, kita sebagai dokter justru jangan juga terjerumus berpatokan pada AI atau internet yang beredar, justru kita harus meluruskan. Kadang-kadang penyakitnya didiagnosis ini di internet, di AI, hasil pemeriksaan dokternya itu berbeda. Kita sebagai mahasiswa juga dalam menyaring ilmu harus menyesuaikan. Jadi, kita harus betul-betul pandai memanfaatkan teknologi dan AI,” jelas Sigit.

Sigit menjelaskan dalam mendukung paradigm baru tersebut, Fakultas Kedokteran UMI telah memiliki unit pengembangan kurikulum khusus untuk mengkaji metode pembelajaran yang adaptif bagi mahasiswa generasi saat ini. Salah satu metode unggulan yang diterapkan adalah Active Learning, di mana proses belajar tidak lagi bersifat satu arah, melainkan lebih banyak mengedepankan diskusi.

Dikatakan, mahasiswa dibagi ke dalam kelompok kecil untuk membedah kasus atau skenario masalah secara mandiri, yang kemudian dipaparkan melalui format Small Group Learning (SGL). Dalam proses ini, dosen berperan sebagai fasilitator yang memberikan tanggapan dan evaluasi untuk memastikan pemahaman mereka tepat, sehingga tercipta kolaborasi belajar yang lebih efektif dan interaktif.

“Jadi, biasa kita bagi kelompok-kelompok kecil. Kami kasihkan kasus contoh scenario masalah, mereka mencari sendiri, mereka diskusi sendiri. Mereka nanti memaparkan dalam bentuk SGL, Small Group Learning . Ketika presentasi, dosennya akan menanggapi, ini yang udah benar, ini yang belum sehingga nanti bisa betul-betul bekerja sama semuanya,” jelas Sigit.

Metode diskusi dinilai Sigit, jauh lebih efektif karena menyesuaikan dengan karakter mahasiswa masa kini yang jauh lebih aktif dan melek teknologi. Dengan dukungan perangkat digital, mahasiswa dapat dengan mudah mengakses referensi secara mandiri yang juga difasilitasi melalui Learning Management System (LMS).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....