Mitigasi Bencana Pangkep di tengah Tantangan Alam Unik

  • 02 Mei 2026 04:29 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Kabupaten Pangkep memiliki topografi "Tiga Dimensi" yang unik. Secara garis besar, wilayah daratan Kabupaten Pangkajene, dan Kepulauan ditandai dengan bentang alam wilayah dari daerah dataran rendah sampai pegunungan, yang mana memiliki potensi bencana cukup besar juga terdapat pada wilayah daratan Kabupaten Pangkajene, dan Kepulauan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangkep, Akbar Yunus kepada RRI mengungkapkan wilayah kelautan dan pesisir Pangkep memiliki potensi bencana yang sangat tinggi, terutama akibat cuaca ekstrem dan angin kencang. Dalam beberapa tahun terakhir, cuaca buruk telah memakan banyak korban jiwa, termasuk insiden kapal tenggelam yang melibatkan pejabat setempat. Sabtu, 02 Mei 2026.

“Hampir setiap hari, sejak bulan Desember, sampai saat ini kami masih menerima informasi laporan dari masyarakat dan pemerintah setempat terkait dengan akibat dari angin kencang dan perubahan cuaca. Dan beberapa tanah lonsor juga di daerah kampung-kampung pesisir, tanah amblas, itu juga beberapa kejadian,” ungkap Akbar.

Sejak tahun 2013, pola bencana di Pangkep mengalami perubahan dengan terjadinya 13 kali banjir besar yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Kondisi geografis Pangkep yang berbentuk seperti "cekungan raksasa" memperburuk keadaan, sehingga curah hujan tinggi memicu genangan air besar yang memutus akses jalan di wilayah Maros, Pangkep, dan Barru.

Selain faktor perubahan iklim, kajian menunjukkan bahwa pembangunan bantalan rel kereta api menjadi salah satu penyebab banjir karena menghambat aliran air. Meskipun demikian, diakui Akbar, BPBD kab. Pangkep telah memiliki dokumen kajian risiko bencana sebagai panduan operasional.

Akbar mengungkapkan tantangan mitigasi di Pangkep sangat besar karena faktor geografis. Hal ini karena wilayah Pengkep terdiri dari 117 pulau yang tersebar di empat kecamatan, di mana 93% luas administratifnya merupakan perairan dan hanya 7% berupa daratan atau pegunungan.

Jarak yang mencapai ratusan mil membuat akses warga ke pusat kota menjadi sangat riskan, terutama saat cuaca buruk. Diakui Akbar, keterbatasan personil dan sarana prasarana juga menjadi tantangan saat melakuka upaya mitigasi. Olehnya itu, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan beberapa stakeholder baik secara internal maupun eksternal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....