Harta Judi Disebut “Harta Panas”, Tidak Membawa Berkah dalam Pandangan Islam
- 30 Apr 2026 17:04 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Dalam perspektif agama Islam, harta yang diperoleh dari praktik perjudian atau maysir dinilai sebagai “harta panas” yang tidak membawa keberkahan dalam kehidupan. Hal ini disampaikan oleh Ust Panji Hartono, seorang dai dari Ikatan Dai Muda Indonesia, pada obrolan Apresiasi Budaya Lokal, pada hari Selasa 28 April 2026, di Pro 4 RRI Makassar.
Menurut Ust Panji, istilah “harta panas” merujuk pada harta yang diperoleh dengan cara yang tidak halal, sehingga keberadaannya tidak hanya merugikan secara moral, tetapi juga berdampak negatif dalam kehidupan sosial dan spiritual seseorang. “Dalam Islam, segala bentuk perjudian jelas dilarang. Harta yang dihasilkan dari judi tidak akan membawa ketenangan, justru memicu kegelisahan, konflik, bahkan kehancuran dalam keluarga,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, praktik maysir termasuk dalam perbuatan yang diharamkan karena mengandung unsur spekulasi, ketidakadilan, serta merugikan pihak lain. Oleh karena itu, harta yang diperoleh dari aktivitas tersebut tidak memiliki nilai keberkahan, meskipun secara jumlah terlihat besar.
Lebih lanjut, Ust Panji menekankan bahwa keberkahan dalam harta tidak hanya diukur dari banyaknya, tetapi dari cara memperolehnya dan bagaimana harta tersebut digunakan. Harta yang halal, meskipun sedikit, dinilai jauh lebih bernilai karena membawa ketenangan dan kebaikan dalam kehidupan.
“Sering kita lihat, orang yang mendapatkan uang dari judi justru tidak bisa menikmatinya dengan tenang. Ada saja masalah yang muncul. Ini karena harta tersebut tidak diridhai,” tambahnya.
Ia juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih bijak dalam mencari penghasilan dan menjauhi praktik-praktik yang bertentangan dengan nilai agama. Menurutnya, edukasi tentang bahaya judi perlu terus digencarkan agar masyarakat tidak terjebak dalam lingkaran yang merugikan.
Di akhir penyampaiannya, Ust Panji berharap agar masyarakat semakin sadar bahwa keberhasilan sejati bukan hanya tentang kekayaan materi, tetapi juga tentang keberkahan dan ketenangan hidup yang diperoleh melalui cara yang halal. “Rezeki yang baik adalah rezeki yang membawa manfaat, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain, serta mendapatkan ridha dari Allah SWT,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....