Pelajaran Berharga Dari Ayah Para Nabi
- 27 Apr 2026 20:08 WIB
- Makassar
RI.CO.ID, Makassar – Masjid Al-Muawanah RRI Makassar kembali menggelar kajian rutin pada Senin 27 April 2026, dengan menghadirkan narasumber Ustaz Sufyan Abu Yahya. Dalam kajian yang bertajuk "Pelajaran Berharga Dari Ayah Para Nabi" tersebut, Ustaz Sufyan mengupas tuntas kemuliaan Nabi Ibrahim Alaihissalam sebagai sosok sentral dalam sejarah kenabian yang patut dijadikan teladan sepanjang masa bagi umat Islam.
Dalam pemaparannya, Ustaz Sufyan menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim menyandang gelar Khalilullah, yang berarti kekasih Allah. Istilah ini berasal dari kata khulah atau khalisul mahabbah, yakni cinta yang paling murni. Beliau menegaskan bahwa berdasarkan dalil-dalil yang sampai kepada umat, hanya ada dua nabi yang diangkat menjadi Khalil, yakni Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, yang menunjukkan betapa tingginya derajat kedua nabi tersebut di sisi Allah.
"Sesungguhnya Allah telah menjadikan saya sebagai Khalil-Nya, sebagaimana Allah telah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai Khalil," ujar Ustaz Sufyan mengutip hadis Nabi Muhammad, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (HR. Muslim no. 532). Beliau menambahkan bahwa kedudukan tinggi ini membuat Nabi Muhammad pun diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim, sebuah isyarat bahwa keteladanan beliau merupakan fondasi penting dalam keimanan.

Di hadapan Jamaah, Ustaz Sufyan juga menguraikan bahwa derajat tinggi sebagai imam atau pemimpin umat tidak diraih Nabi Ibrahim begitu saja tanpa pengorbanan. Untuk mencapai imamah atau kepemimpinan dalam agama, seseorang harus melewati proses panjang yang membutuhkan kesabaran luar biasa dan keyakinan yang teguh. Hal ini sejalan dengan firman Allah yang menjelaskan bahwa para pemimpin agama dipilih karena kesabaran dan keyakinan mereka terhadap ayat-ayat-Nya.
Salah satu ujian terberat yang dialami Nabi Ibrahim adalah terkait putra pertamanya, Nabi Ismail, yang lahir dari rahim Siti Hajar setelah penantian yang sangat panjang. Namun, saat rasa kasih sayang orang tua sedang memuncak, Allah justru memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menempatkan putra semata wayangnya tersebut di sebuah lembah gersang yang tidak berpenghuni, yakni Makkah, jauh dari tempat tinggalnya di Palestina.
Kawasan Makkah pada masa itu digambarkan sebagai wilayah yang tidak memiliki air maupun tumbuh-tumbuhan, bahkan belum menjadi sebuah desa. Namun, demi ketaatan kepada Allah, Nabi Ibrahim rela meninggalkan anak dan istrinya untuk melanjutkan dakwah di tempat lain. Beliau meyakini bahwa apa pun yang diperintahkan Allah pasti mengandung kebaikan, meskipun secara lahiriah terlihat sangat berat dan menyakitkan.
Mengakhiri kajiannya, Ustaz Sufyan menekankan bahwa setiap ujian yang dilewati dengan kesempurnaan iman akan membuahkan kemuliaan derajat. Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa pengorbanan dan ketundukan total kepada perintah Allah adalah kunci utama untuk mendapatkan kecintaan Sang Pencipta. Beliau mengajak para jemaah untuk mengambil hikmah dari kesabaran Nabi Ibrahim dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan di dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....