Komisi IV Dukung Peningkatan Fasilitas Barantin
- 26 Apr 2026 09:42 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Komisi IV DPR melakukan kunjungan kerja spesifik di Sulawesi Selatan, dalam rangkaian kunjungan tersebut sejumlah tempat didatangi salah satunya ke satunya ke Balai Besar Karantina (Barantin) Satuan Pelaksana Bandara Hasanuddin ya, Makassar. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Panggah Susanto mengungkapkan dukungan terhadap kerja dan fungsi dari Badan Karantina dalam hal ini Balai Besar Karantina.
“Saya sampaikan , ini merupakan garda terdepan dari pengamanan barang-barang kita, baik yang masuk maupun yang keluar, artinya yang impor maupun yang ekspor. Khususnya, terkait komoditas dari pertanian, kehutanan, dan juga perikanan,” ungkap Panggah, dalam keterangan nya Jumat 25 April 2026
Lebih jauh, ia menjelaskan sekarang ini perlindungan tidak bisa lagi dilakukan dengan tarif barrier , maka peran Balai Besar Karantina menjadi penting dan memerlukan dukungan termasuk Sumber Daya Manusia (SDM) , fasilitasnya, “Peran Balai Besar Karantina sangat penting sehingga perlu dukungan sebagai badan atau sebagai lembaga yang melindungi kita semuanya, kami sepakat dari komisi IV tentunya memberikan dukungan dalam melaksanakan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya agar bisa lebih baik lagi,” terangnya
Lebih lanjut, dalam peninjauan yang dilakukan di Satuan Pelayanan Bandara International Sultan Hasanuddin Makassar, fasilitas karantina dan semangat kerja petugas karantina dinilai sudah baik dan profesional. Meski demikian, dengan wilayah Indonesia yang luas dan tantangan biosekuriti yang semakin kompleks, kapasitas fasilitas dan dukungan sumber daya manusia untuk karantina masih perlu diperkuat.
"Kami sepakat dari Komisi IV mendukung penguatan kelembagaan Badan Karantina Indonesia, termasuk melalui dukungan anggaran agar pelaksanaan tugas dan fungsi karantina semakin optimal. Kami juga sudah mengajukan anggaran untuk " tambahnya.
Sementara itu, Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M. Panggabean mengungkapkan bahwa penguatan karantina terus dilakukan secara menyeluruh, baik melalui transformasi layanan digital, modernisasi laboratorium, maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sahat menjelaskan bahwa saat ini Karantina telah menggunakan sistem digital, dan selanjutnya akan berfokus pada revitalisasi laboratorium dan peningkatan SDM.
“Laboratorium merupakan senjata karantina untuk bertempur. Karena itu kami dorong modernisasi alat, pembenahan gedung, hingga peningkatan kemampuan SDM sebagai bagian dari penguatan seluruh aspek perlindungan keamanan hayati,” jelas Sahat.
Sahat juga menyatakan mobilitas hewan, ikan, dan tumbuhan di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan cukup tinggi. Data lalu lintas hewan, ikan, dan tumbuhan yang dilalulintaskan melalui Karantina Sumsel menunjukkan angka yang cukup tinggi. Hal ini menegaskan posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu hub logistik utama di kawasan timur Indonesia, baik melalui pelabuhan laut maupun bandar udara.
Sebagai informasi, data ekspor yang disertifikasi melalui Karantina Sulawesi Selatan sepanjang 2025 menunjukkan performa yang impresif. Komoditas asal daerah ini telah menembus 63 negara tujuan dengan total volume mencapai 355.431 ton dan nilai ekspor sekitar Rp11,1 triliun.
Komoditas unggulan ekspor di sektor perikanan seperti udang vannamei, tuna, kerapu, gurita, dan karagenan menyumbang nilai ekspor sekitar Rp5,6 triliun. Kemudian pada sektor pertanian terdapat komoditas rumput laut, kelapa bulat, kakao, kacang mede, dan porang yang memiliki nilai ekonomi sekitar Rp5,5 triliun. Terdapat juga komoditas hewan yang diekspor meliputi awetan kupu-kupu, kulit reptil, sarang burung walet, dan madu yang diperkirakan memiliki nilai ekonomi sekitar Rp979 juta. Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara antara lain China, Jepang, Amerika Serikat, Australia, Vietnam, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa seperti Belanda dan Prancis.
Selain ekspor, terdapat juga lalu lintas domestik keluar (dokel) mencapai sekitar 439,55 juta kilogram dengan nilai Rp5,12 triliun, dan domestik masuk (domas) sebesar 115,39 juta kilogram dengan nilai Rp1,39 triliun. Sedangkan untuk impor, tercatat volume sekitar 264,35 juta kilogram dengan nilai mencapai Rp1,10 triliun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....