Strategi Pelestarian Bahasa Daerah Sulawesi Selatan di Era Digital
- 17 Apr 2026 08:42 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar – Upaya menjaga eksistensi bahasa daerah di Sulawesi Selatan menjadi perhatian serius pemerintah provinsi Sulse. Hal ini dibahas dalam program "Kita Indonesia" di PRO1 RRI Makassar edisi Kamis, 16 April 2026. Menghadirkan narasumber Faulina Muliana, S.T., M.M., selaku Pamong Budaya Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, yang dipandu oleh Arfan Yusri ini mengupas strategi dan tantangan pelestarian kekayaan linguistik lokal.
Dalam dialog tersebut, Faulina menegaskan bahwa alasan mendasar pelestarian bahasa daerah bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan menjaga fondasi identitas. Menurutnya, bahasa daerah adalah wadah dari nilai-nilai kearifan lokal, adat istiadat, dan sejarah panjang masyarakat Sulawesi Selatan. Jika bahasa daerah punah, maka sebagian besar akar budaya dan jati diri bangsa yang terkandung di dalamnya juga terancam hilang secara permanen.
"Bahasa daerah adalah identitas diri kita sebagai orang Sulawesi Selatan. Di dalamnya tersimpan nilai moral, etika, dan filosofi hidup yang tidak bisa digantikan oleh bahasa lain. Melestarikan bahasa berarti kita sedang merawat sejarah dan harga diri bangsa agar tetap tegak di masa depan," ujar Faulina Muliana.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sendiri telah menyusun berbagai program strategis untuk menghalau ancaman kepunahan bahasa. Salah satu langkah konkretnya adalah penguatan muatan lokal di jenjang pendidikan serta pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). Selain itu, digitalisasi aksara dan literasi bahasa daerah terus didorong agar materi pembelajaran lebih mudah diakses oleh masyarakat luas, terutama melalui platform yang relevan dengan perkembangan zaman.
Meski demikian, jalan menuju pelestarian ini bukannya tanpa hambatan. Faulina mengungkapkan bahwa kendala terbesar saat ini adalah berkurangnya penggunaan bahasa daerah di ranah domestik atau keluarga. “Banyak orang tua yang tidak lagi membiasakan anak-anak mereka berkomunikasi dengan bahasa ibu. Tantangan globalisasi dan dominasi bahasa asing di media sosial juga membuat bahasa daerah seringkali dianggap tidak praktis atau ketinggalan zaman oleh sebagian Masyarakat,kemudian kurangnya SDM yakni guru Muatan Lokal di level SD dan SMP saat ini namun kami telah berupaya bersama Dinas Pendidikan agar bagaimana Tenaga Penutur ini dialokasikan ke depannya,” tambah faulina.
Menghadapi tantangan tersebut, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Sulsel menaruh harapan besar kepada generasi milenial dan Gen Z. Generasi muda diharapkan mampu menjadi jembatan transformasi budaya dengan memanfaatkan kreativitas mereka. Penggunaan bahasa daerah dalam pembuatan konten kreatif, musik, hingga aplikasi digital dipandang sebagai cara efektif agar bahasa Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja tetap relevan dan memiliki daya tarik di mata anak muda.
Sebagai penutup diskusi, Faulina mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bangga menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. “Kami berharap generasi muda tidak merasa rendah diri, melainkan justru merasa eksklusif dan keren saat mampu menguasai bahasa leluhurnya. Kita boleh menguasai Bahasa Global namun jangan sampai kita lupakan akar Bahasa kita sendiri.Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesadaran masyarakat, bahasa daerah di Sulawesi Selatan diyakini akan tetap lestari melintasi zaman,” tutup Faulina.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....