Syawalan Unismuh Makassar Soroti Krisis Makna Ibadah
- 05 Apr 2026 18:58 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Kegiatan syawalan Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar mengangkat refleksi mendalam tentang makna ibadah di tengah kehidupan modern. Acara yang berlangsung di Aula Fakultas Teknik Gedung Menara Iqra, Sabtu, 4 April 2026 ini menjadi ruang evaluasi spiritual pasca-Ramadhan bagi alumni dan sivitas akademika.
Dalam ceramah hikmahnya, Ismail Rasulong menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “krisis makna ibadah”, di mana praktik keagamaan cenderung dipahami sebatas rutinitas tanpa menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan sosial. Ia menjelaskan bahwa banyak orang terjebak dalam pola pikir kuantitatif, yakni mengukur keberhasilan ibadah dari jumlah amalan yang dilakukan selama Ramadhan, tanpa melihat keberlanjutan nilai tersebut setelah bulan suci berakhir.
“Sering kali kita merasa cukup setelah mengumpulkan banyak amal selama Ramadhan. Padahal, esensi beragama bukan sekadar akumulasi, tetapi bagaimana nilai itu terus hidup dalam keseharian,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengikis substansi ajaran Islam yang menekankan keseimbangan antara hubungan vertikal kepada Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama manusia. Ismail menegaskan bahwa nilai keagamaan harus terimplementasi dalam tindakan nyata, seperti kepedulian sosial dan keberpihakan kepada kelompok yang membutuhkan. Ia mengaitkan hal tersebut dengan pentingnya membangun kesadaran kolektif dalam masyarakat.
Lebih jauh, ia mengajak peserta untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan, bukan sekadar momentum tahunan. Ia menilai bahwa transformasi spiritual harus diikuti dengan perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Selain itu, ia juga menekankan bahwa alumni memiliki peran strategis dalam menyebarkan nilai-nilai tersebut di tengah masyarakat. Dengan latar belakang keilmuan yang dimiliki, alumni diharapkan mampu menjadi teladan dalam mengintegrasikan nilai agama dan kehidupan sosial.
Kegiatan syawalan ini dinilai tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai forum refleksi untuk memperkuat pemahaman keagamaan yang lebih kontekstual. Diskusi yang berkembang menunjukkan adanya kesadaran bersama akan pentingnya memperbaiki kualitas ibadah.
Menutup ceramahnya, Ismail mengingatkan bahwa keberhasilan Ramadhan bukan diukur dari apa yang telah dilakukan, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai tersebut mampu dipertahankan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....