Titian Ilahi Bahas Faham Ekstrim dan Dampaknya dalam Kehidupan
- 03 Apr 2026 16:52 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar - Program Titian Ilahi edisi Jumat, 3 April 2026 di PRO1 RRI Makassar mengangkat topik krusial mengenai bahaya faham ekstrim dalam kehidupan bermasyarakat. Diskusi yang dipandu oleh narasumber Gishar Hamka, S.Pd., M.Pd. dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar ini, menyoroti bagaimana pola pikir radikal dapat merusak tatanan sosial yang telah lama terjaga. Dipandu oleh penyiar Arfan Yusri, dialog ini mengajak pendengar untuk lebih waspada terhadap penyebaran ideologi yang tertutup dan cenderung menyalahkan perbedaan.
Gishar Hamka menjelaskan bahwa faham ekstrim biasanya lahir dari pemahaman teks keagamaan yang kaku tanpa memperhatikan konteks sosial dan kemanusiaan. “ Ekstrimisme sering kali mengabaikan prinsip moderasi yang menjadi inti dari setiap ajaran agama. Hal ini menyebabkan seseorang merasa paling benar sendiri dan sulit menerima keberagaman yang ada di lingkungan sekitarnya. Tanpa adanya pemahaman yang inklusif, faham ini akan terus menjadi ancaman laten bagi kerukunan di kota metropolitan seperti Makassar,” jelasnya.
Dampak dari faham ekstrim ini dinilai sangat destruktif bagi keharmonisan hidup berdampingan. Gishar menekankan bahwa bibit intoleransi yang dihasilkan dari pemahaman ekstrim dapat memicu konflik horizontal antar kelompok masyarakat. “ Kehidupan yang semula tenang bisa berubah menjadi penuh kecurigaan hanya karena perbedaan pandangan atau keyakinan. Kondisi ini jika dibiarkan tentu akan menghambat kemajuan pembangunan daerah karena energi masyarakat habis tersita untuk pertikaian yang tidak perlu,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gishar Hamka memberikan pernyataan tegas mengenai pentingnya menjaga keseimbangan dalam beragama. Beliau menekankan bahwa moderasi adalah kunci untuk menangkal arus radikalisme."Faham ekstrim itu ibarat racun yang perlahan menggerogoti rasa persaudaraan kita. Jika kita tidak mengedepankan nilai moderasi dan kasih sayang dalam beragama, maka dampak buruknya bukan hanya pada diri kita sendiri, melainkan hancurnya martabat kemanusiaan di tengah masyarakat kita," ujar Gishar Hamka.
Lebih lanjut, narasumber mengajak para pemuda dan orang tua untuk lebih selektif dalam menyaring informasi, terutama dari media sosial yang sering menjadi ladang penyebaran ideologi radikal. Edukasi di tingkat keluarga dianggap sebagai benteng utama dalam mencegah masuknya pengaruh buruk tersebut. Gishar mengingatkan bahwa pemahaman yang sehat adalah pemahaman yang membawa kedamaian, bukan kebencian terhadap sesama manusia.
FKUB Kota Makassar sendiri terus berkomitmen untuk memberikan pendampingan dan sosialisasi kepada berbagai lapisan masyarakat guna meminimalisir ruang gerak faham ekstrim. Melalui program-program dialog lintas iman, diharapkan masyarakat Makassar memiliki imunitas yang kuat terhadap doktrin yang memecah belah. Kerjasama antara lembaga keagamaan, pemerintah, dan media dianggap sangat vital untuk menyebarkan pesan damai secara konsisten.
Menutup Titian Ilahi, Ghisar menyimpulkan bahwa menjaga kerukunan adalah tanggung jawab bersama. “Faham ekstrim tidak akan tumbuh subur jika setiap individu mengedepankan dialog dan toleransi dalam setiap interaksi sosial. Dengan semangat kebersamaan, diharapkan Makassar tetap menjadi kota yang aman, nyaman, dan harmonis bagi seluruh warganya tanpa memandang latar belakang keyakinan,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....