Dilema Lokasi PSEL Makassar, Akademisi Soroti Aspek Teknis dan Efisiensi
- 27 Mar 2026 10:11 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di Kota Makassar kembali menjadi sorotan setelah terjadi perubahan lokasi dari kawasan industri Jalan Ir. Sutami ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa. Akademisi teknik dan praktisi lingkungan, Nasruddin Aziz, menilai perubahan tersebut bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan menyangkut aspek fundamental dalam perhitungan teknis, ekonomi, dan risiko sosial.
Menurutnya, dengan produksi sampah Makassar yang mencapai lebih dari 1.000 ton per hari dan diproyeksikan meningkat hingga 2.000 ton dalam satu dekade ke depan, penentuan lokasi PSEL harus berbasis efisiensi dan akurasi engineering. “Ini bukan hanya soal lokasi, tetapi apakah kita memilih solusi yang paling efisien secara teknis atau justru berkompromi dengan pertimbangan lain di luar nalar engineering,” ujarnya. Kamis, 26 Maret 2026.
Ia menjelaskan, secara teknologi, PSEL modern telah mengalami perkembangan signifikan. Fasilitas pengolahan sampah berbasis energi kini menggunakan sistem tertutup yang mampu meminimalkan bau dan kebisingan. Sebagai contoh, teknologi yang dikembangkan oleh Shanghai SUS Environment Co., Ltd. di Tiongkok dinilai mampu menghadirkan instalasi yang lebih bersih dan ramah lingkungan, bahkan menyerupai gedung industri modern. Nasruddin menilai, lokasi di kawasan industri Ir. Sutami sebelumnya memiliki keunggulan dari sisi teknis, terutama karena kedekatannya dengan Gardu Induk KIMA dan sumber air Sungai Tallo. Kondisi tersebut dinilai dapat menekan biaya infrastruktur dan meningkatkan efisiensi operasional.
Sebaliknya, jika pembangunan dipusatkan di Tamangapa, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Di antaranya kebutuhan pembangunan jaringan transmisi listrik hingga sekitar 10 kilometer menuju Gardu Induk Borongloe, serta potensi persoalan sosial akibat jalur infrastruktur yang melintasi kawasan padat penduduk. Selain itu, keterbatasan sumber air baku di sekitar lokasi juga menjadi catatan penting, sehingga sistem daur ulang air harus dioptimalkan untuk mendukung operasional pembangkit.
Meski demikian, ia mengakui bahwa pembangunan PSEL di Tamangapa memiliki nilai strategis dalam mengurangi timbunan sampah lama. Dengan skema pengolahan sekitar 1.000 ton sampah baru per hari dan pengurangan 300 ton sampah lama, persoalan gunungan sampah dinilai dapat diselesaikan dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, ia mengingatkan bahwa keunggulan tersebut harus diimbangi dengan perhitungan ekonomi yang matang, terutama terkait biaya infrastruktur tambahan.
“Jangan sampai energi yang dihasilkan dari sampah justru habis untuk menutup biaya ketidakefisienan yang kita ciptakan sendiri,” katanya.
Ia menekankan bahwa proyek strategis seperti PSEL membutuhkan keputusan yang berbasis data teknis yang kuat, agar solusi yang dihasilkan tidak hanya berani secara kebijakan, tetapi juga presisi dalam pelaksanaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....