Appi–Aliyah Pimpin Makassar: Fondasi Diletakkan, Program Nyata Disiapkan
- 21 Feb 2026 09:40 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar — Tepat satu tahun kepemimpinan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, masyarakat mulai merasakan perubahan yang dijanjikan sejak masa kampanye. Sejak dilantik pada 20 Februari 2025 di Istana Negara oleh Presiden Prabowo Subianto, pasangan Appi–Aliyah bergerak cepat menerjemahkan visi politik ke dalam kerja nyata yang menyentuh kebutuhan warga.
Dalam kurun 12 bulan atau sekitar 365 hari pemerintahan berjalan, arah pembangunan Kota Makassar kian terukur dan konkret. Sejumlah program unggulan mulai menunjukkan hasil di lapangan, mulai dari penataan parkir liar, pembenahan drainase dan kebersihan lingkungan, penguatan layanan publik, hingga program sosial seperti seragam sekolah gratis yang mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Di sektor penataan kota, pemerintah mengambil langkah tegas namun humanis dalam menertibkan parkir liar dan lapak yang berdiri di atas fasilitas umum. Pendekatan persuasif dikedepankan untuk memastikan penataan berjalan tanpa konflik. Hasilnya, wajah kota menjadi lebih tertib, akses pejalan kaki lebih nyaman, serta ruang publik kembali pada fungsinya.
Komitmen terhadap kebersihan dan infrastruktur lingkungan juga diwujudkan melalui gerakan cepat di tingkat kecamatan dan kelurahan. Kanal-kanal yang sebelumnya tersumbat kini rutin dibersihkan, sehingga mengurangi potensi banjir dan meningkatkan kualitas lingkungan permukiman warga.
Sementara itu, di bidang pelayanan sosial dan pendidikan, realisasi program seragam sekolah gratis menjadi simbol keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat kecil. Program ini tidak hanya meringankan beban orang tua, tetapi juga menunjukkan kehadiran negara dalam memenuhi kebutuhan dasar warganya.
Satu tahun memang bukan waktu panjang dalam siklus pembangunan kota. Namun, dalam periode tersebut, fondasi perubahan dinilai telah diletakkan. Kepemimpinan Appi–Aliyah menunjukkan konsistensi antara janji dan realisasi, antara visi dan aksi, dari wacana menuju bukti konkret.
Dalam refleksi satu tahun kepemimpinan Munafri–Aliyah (MULIA) yang digelar di Lapangan Karebosi, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Jumat 20 Februari 2026, Munafri menegaskan bahwa memasuki tahun kedua, seluruh jajaran Pemerintah Kota Makassar tidak boleh lagi menjalankan program yang bersifat seremonial atau sekadar menggugurkan kewajiban administrasi.
“Saya perlu ingatkan, masuk tahun kedua harus menjadi fase percepatan program yang berdampak nyata dan langsung dirasakan masyarakat,” tegasnya Jumat, 20 Februari 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Makassar, jajaran pimpinan dan anggota DPRD Makassar, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Ketua TP PKK Melinda Aksa, serta pejabat dan pegawai lingkup Pemerintah Kota Makassar.
Munafri, yang akrab disapa Appi, juga mengingatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar tidak terjebak dalam pola kerja lama tanpa pembelajaran. Menurutnya, setiap kegagalan harus menjadi bahan evaluasi, bukan diulang tanpa perubahan pendekatan.
“Begitu naifnya kita ketika hal-hal yang kemarin dianggap tidak berhasil lalu kita ulang lagi. Ini tidak akan memberikan dampak apa-apa,” ujarnya.
Politisi Partai Golkar itu menilai, persoalan utama bukan terletak pada kualitas sumber daya manusia, melainkan pada arsitektur berpikir dan sistem kerja yang belum berubah. Ia mendorong perubahan paradigma pembangunan dari sekadar administratif menuju penyelesaian masalah kota secara nyata.
“Mulai dari identifikasi persoalan, penentuan target perubahan, proses transformasi, hingga intervensi terpadu. Setelah itu, dampaknya harus diukur,” jelas mantan CEO PSM Makassar tersebut.
Munafri juga menyampaikan refleksi jujur atas tahun pertama pemerintahannya. Ia mengakui bahwa meski sistem mulai tertata dan kerja pemerintah meningkat, dampaknya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
“Legitimasi publik itu bukan diberikan saat pelantikan, tetapi diperbaharui setiap hari melalui perubahan yang dirasakan masyarakat,” tegas Ketua Golkar Makassar itu.
Dalam kesempatan tersebut, Munafri merumuskan empat pembelajaran utama dari tahun pertama kepemimpinannya, yakni program tidak otomatis menyelesaikan masalah, inovasi tidak selalu berdampak tanpa integrasi, anggaran besar tidak menjamin efektivitas, serta reformasi birokrasi administratif belum cukup tanpa reformasi manajemen kinerja.
Ke depan, ia menegaskan arah perbaikan di tahun kedua adalah menggeser pola kerja dari working in government menjadi problem solving government, dengan indikator kinerja yang berorientasi pada outcome dan impact.
“Jika tahun pertama adalah fase pembenahan sistem kerja, maka tahun kedua adalah fase percepatan dampak. Makassar tidak kekurangan kerja, Makassar sedang menyempurnakan cara bekerja,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....