Tips Komunikasi: Mengajarkan Anak Tetap Mappatabe’
- 10 Feb 2026 23:02 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Dalam budaya Bugis-Makassar, sikap tabe’ dikenal sebagai bentuk kesantunan dan penghormatan dalam berkomunikasi, khususnya kepada orang yang lebih tua. Namun, di era saat ini, tantangan bagi para ibu adalah bagaimana menanamkan nilai tabe’ kepada anak tanpa mematikan keberanian mereka untuk menyampaikan pendapat secara jujur dan sehat.
Dalam Obrolan Ite'ne di Pro 4 RRI Makassar, Senin, 9 Februari 2026, Sekretaris KICI Sulawesi Selatan, Yessy Aryani DT, S.Sos, mengatakan bahwa peran ibu sangat sentral dalam membentuk pola komunikasi anak sejak dini. Menurutnya, ibu adalah teladan pertama yang akan ditiru anak, baik dari cara berbicara, intonasi suara, maupun sikap saat menyampaikan pendapat di dalam keluarga.
Yessy menjelaskan, mengajarkan sikap tabe’ tidak hanya sebatas penggunaan kata, tetapi juga mencakup adab berbicara. Anak perlu diajarkan untuk mengawali pendapat dengan bahasa yang sopan, nada yang lembut, serta sikap menghargai lawan bicara. Dengan begitu, anak tetap bisa menyampaikan isi pikirannya tanpa terkesan melawan atau kurang ajar.
Selain itu, ibu juga perlu menciptakan ruang aman bagi anak untuk berbicara. “Anak harus merasa bahwa pendapatnya didengar dan dihargai. Jika setiap pendapat anak langsung dipatahkan atau dimarahi, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang takut berbicara,” ujar Yessy. Menurutnya, keberanian berpendapat justru tumbuh dari kebiasaan berdialog di rumah.
Yessy menambahkan, penting bagi ibu untuk membedakan antara sikap kritis dan sikap tidak sopan. Anak yang bertanya atau berbeda pendapat tidak selalu berarti melawan. Dalam hal ini, ibu berperan untuk meluruskan cara penyampaian, bukan mematikan isi pendapat anak tersebut.
Dalam praktik sehari-hari, ibu dapat melatih anak dengan contoh kalimat sederhana yang mengandung unsur tabe’, seperti “Tabe’, menurutku…” atau “Tabe’ ibu, saya ingin menyampaikan pendapat.” Pembiasaan ini akan membantu anak memahami bahwa keberanian dan kesantunan dapat berjalan beriringan.
Melalui komunikasi yang terbuka dan penuh penghargaan, nilai budaya tabe’ dapat terus lestari sekaligus melahirkan generasi yang percaya diri, kritis, dan beretika. “Anak yang berani berpendapat dengan santun adalah aset penting bagi masa depan keluarga dan masyarakat,” tutup Yessy Aryani DT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....