Alpaka Guru Jadi Pengingat Pentingnya Menghormati Empat Guru dalam Ajaran Hindu
- 10 Jul 2026 21:22 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Menghormati guru tidak hanya dimaknai sebagai bentuk sopan santun, tetapi juga merupakan kewajiban spiritual dalam ajaran Hindu. Melalui konsep Alpaka Guru, umat diingatkan agar tidak meremehkan, mengabaikan, maupun membangkang kepada sosok-sosok yang berjasa membimbing kehidupan manusia.
Hal tersebut disampaikan narasumber Mimbar Agama Hindu RRI Makassar, I Ketut Buana Kertayasa, S.Pd., M.Pd., dalam program bertema "Alpaka Guru dalam Ajaran Catur Guru", Rabu (1/7/2026). Ia menjelaskan, istilah alpaka guru berasal dari kata alpaka yang berarti meremehkan atau kurang menghargai, sedangkan guru merupakan sosok pembimbing yang menuntun manusia dari kegelapan menuju pengetahuan dan kebijaksanaan.

Menurutnya, ajaran Hindu mengenal konsep Catur Guru, yaitu empat sosok yang wajib dihormati. Guru pertama adalah Guru Swadyaya, yakni Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber segala ilmu dan kebijaksanaan. Penghormatan kepada Guru Swadyaya diwujudkan melalui sembahyang, menjalankan ajaran dharma, menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan, serta senantiasa bersyukur atas anugerah kehidupan.
Guru kedua adalah Guru Rupaka, yaitu orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan. I Ketut Buana mengatakan, penghormatan kepada orang tua dapat diwujudkan dengan berbicara sopan, menaati nasihat, membantu tanpa diminta, serta merawat mereka ketika memasuki usia lanjut.
Sementara itu, Guru Pengajian merupakan setiap orang yang memberikan ilmu pengetahuan, baik guru di sekolah, dosen, maupun pembimbing lainnya. Ia menegaskan bahwa menghormati pendidik tidak hanya dilakukan melalui sikap sopan, tetapi juga dengan belajar sungguh-sungguh dan mengamalkan ilmu yang diperoleh. Sebaliknya, menghina guru, mengabaikan proses belajar, atau melakukan kekerasan terhadap pendidik merupakan bentuk alpaka guru yang harus dihindari.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Guru Wisesa adalah pemerintah atau pemimpin yang bertugas mengatur kehidupan masyarakat. Menurutnya, masyarakat tetap memiliki hak untuk menyampaikan kritik, namun harus dilakukan secara santun, sesuai aturan, serta tidak disertai tindakan anarkis maupun ujaran kebencian yang dapat merusak persatuan.
I Ketut Buana juga mengingatkan pentingnya menggunakan media sosial secara bijaksana sebagai wujud penghormatan kepada sesama. Ia menilai penyebaran ujaran kebencian, penghinaan, maupun informasi yang memecah belah bertentangan dengan nilai-nilai dharma yang mengajarkan penghormatan, tanggung jawab, dan pengendalian diri.
Ia berharap nilai-nilai dalam ajaran Catur Guru terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, penghormatan kepada Guru Swadyaya, Guru Rupaka, Guru Pengajian, dan Guru Wisesa bukan hanya membentuk pribadi yang berkarakter dan berakhlak mulia, tetapi juga menjadi landasan terciptanya kehidupan yang harmonis sesuai ajaran Hindu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....