Sekda Makassar: FPD Kunci Sinkronisasi Program Pembangunan
- 04 Feb 2026 07:12 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Makassar, Andi Zulkifly, menegaskan Forum Perangkat Daerah (FPD) merupakan agenda strategis dalam proses perencanaan pembangunan daerah dan tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial semata. Menurutnya, forum lintas sektor ini menjadi ruang penting untuk menyinkronkan seluruh program pembangunan, khususnya di bidang pelayanan kesehatan, agar berjalan terpadu dan saling mendukung.
“Forum Perangkat Daerah ini bukan kegiatan biasa. Ini sangat strategis karena di sinilah semua program, khususnya program Dinas Kesehatan, disinkronkan dengan OPD lain. Dinas Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan lintas sektor,” tegas Andi Zulkifly. Selasa, 3 Februari 2026.
Mantan Kepala Bappeda Makassar itu menjelaskan, FPD merupakan bagian dari tahapan penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 86 Tahun 2017 tentang tata cara perencanaan pembangunan daerah. Ia menekankan, perencanaan pembangunan tidak cukup hanya menyusun program dan menganggarkannya.
Pelaksanaan program kesehatan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari OPD terkait, kecamatan, kelurahan, PKK, hingga pemangku kepentingan lainnya seperti BPJS Kesehatan. “Tanpa kelurahan, tanpa PKK, tanpa dinas sosial, tanpa BPJS Kesehatan, program kesehatan tidak akan berjalan optimal. Karena itu, forum ini menjadi tahapan penting untuk menyinkronkan program tahun 2027,” ujarnya.
Zul sapaan akrabnya menyebutkan, materi yang dibahas dalam forum tersebut merupakan hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kelurahan dan kecamatan, serta hasil reses DPRD yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Seluruh usulan tersebut telah melalui proses input dan verifikasi di Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) oleh Bappeda.
Namun demikian, tidak semua usulan dapat langsung direalisasikan. Diperlukan verifikasi lanjutan oleh OPD teknis, termasuk Dinas Kesehatan, melalui survei lapangan dan penyusunan indikator penganggaran.
“Misalnya ada usulan perbaikan pustu atau fasilitas kesehatan di kelurahan, itu harus diverifikasi terlebih dahulu. Dinas Kesehatan turun mengecek kondisi di lapangan, kemudian menyusun indikator penganggarannya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Andi Zulkifly menyoroti masih lemahnya sinergi lintas sektor, salah satunya disebabkan oleh ketidaktepatan pejabat yang mewakili OPD dalam forum-forum strategis. “Kalau yang hadir bukan pejabat yang memahami perencanaan, maka informasi akan terputus. Akibatnya, perencanaan menjadi parsial, tidak paralel, dan tidak terpadu,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya kehadiran pimpinan OPD atau minimal pejabat yang membidangi perencanaan dan keuangan agar arah pembangunan tetap selaras dengan dokumen perencanaan daerah seperti RPJMD, RPJPD, dan RKPD. Andi Zulkifly juga mengingatkan bahwa Dinas Kesehatan memiliki indikator kinerja utama yang harus dicapai, seperti penurunan angka kematian ibu dan anak, peningkatan angka harapan hidup, serta cakupan layanan kesehatan.
“Target-target ini sudah ada dalam dokumen perencanaan jangka panjang dan menengah. Sekarang tugas kita adalah menyusun program dan inovasi agar target itu tercapai. Dan itu tidak bisa dilakukan sendiri,” tegasnya.
Ia berharap, hasil Forum Perangkat Daerah benar-benar mencerminkan aspirasi masyarakat dari bawah (bottom-up), bukan sekadar perencanaan dari atas (top-down). “Mudah-mudahan forum ini menghasilkan program-program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dan mampu mendukung pencapaian visi-misi Wali Kota Makassar serta target pembangunan daerah,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....