Khutbah Jumat Masjid RRI Makassar Bahas Muhasabah Pasca Ramadhan
- 10 Apr 2026 19:41 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al-Muawanah RRI Makassar pada pelaksanaan Salat Jumat, 10 April 2026. Menghadirkan khatib Ustadz Irfan Amir Al Fatih, khutbah kali ini mengangkat tema krusial mengenai refleksi diri pasca berlalunya bulan suci Ramadhan.
Dalam uraiannya, Ustadz Irfan mengajak jamaah untuk melakukan "muhasabah" atau penghitungan diri guna mengetahui di kelompok manakah posisi kita berada setelah meninggalkan bulan penuh ampunan tersebut. Golongan pertama, yakni Kelompok Orang yang Beruntung. Ustadz Irfan menjelaskan bahwa mereka adalah individu yang menjadikan Ramadhan sebagai batu pijakan untuk berubah secara permanen.
Jika sebelum Ramadhan mereka jarang menyentuh Al-Qur'an atau berat untuk bersedekah, maka setelah Ramadhan mereka justru konsisten menjaga ibadah tersebut. Mereka adalah orang-orang yang berhasil mempertahankan ritme ketaatan meskipun bulan Ramadhan telah lama berlalu.

Lebih lanjut, khatib menekankan bahwa ciri utama golongan beruntung ini adalah adanya rasa gelisah di dalam hati apabila meninggalkan kewajiban. Keresahan muncul saat ibadah terlewatkan, karena mereka telah merasakan manisnya iman.
Baginya, membaca Al-Qur'an dan menyantuni anak yatim bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan dan bentuk syukur atas nikmat harta serta kesehatan yang dititipkan Allah SWT. Sebaliknya, golongan kedua adalah Kelompok Orang yang Merugi. Ustadz Irfan memaparkan fenomena yang sering terlihat setiap tahun, di mana masjid-masjid mulai sepi setelah Idul Fitri.
Kelompok ini hanya beribadah karena menganggap Ramadhan adalah masa "penjara" atau beban, sehingga saat bulan tersebut usai, mereka kembali meninggalkan ketaatan. Mereka seolah-olah hanya menyembah "Ramadhan", bukan menyembah Allah Tuhan semesta alam.
Terkait fenomena tersebut, Ustadz Irfan mengingatkan jamaah melalui firman Allah dalam Surah Al-Hijr ayat 99, yang memerintahkan manusia untuk beribadah sampai datangnya keyakinan (kematian). Ia menegaskan bahwa tidak ada istilah pensiun dalam beribadah selama nafas masih dikandung badan.
Berhenti beribadah hanya karena Ramadhan telah usai adalah sebuah kekeliruan besar yang mencerminkan ketidakikhlasan dalam menghamba kepada Sang Pencipta. Golongan terakhir yang dipaparkan adalah Kelompok Orang yang Celaka.
Ini adalah kelompok yang paling menyedihkan karena mereka tidak mengalami perubahan sedikitpun, baik sebelum, saat, maupun sesudah Ramadhan. Mereka membiarkan bulan suci lewat begitu saja tanpa melaksanakan salat, mengaji, maupun bersedekah.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, celakalah orang yang bertemu Ramadhan namun hingga bulan itu berakhir, dosa-dosanya tidak juga diampuni oleh Allah SWT. Dalam konteks lokal, Ustadz Irfan menyentuh sisi kultural masyarakat Makassar dengan mengaitkan prinsip Siri’ (rasa malu/harga diri).
Ia mempertanyakan di mana rasa malu kita sebagai hamba jika Allah telah memberikan fasilitas hidup secara gratis mulai dari oksigen, penglihatan, hingga organ tubuh yang tak ternilai harganya namun kita masih enggan mendatangi panggilan adzan. Sebagai masyarakat Bugis-Makassar, sudah sepatutnya rasa malu itu hadir saat kita abai terhadap perintah Sang Pemberi Nikmat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....