Idul Fitri Momentum Kembali Suci dan Bertakwa

  • 19 Mar 2026 16:50 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Perayaan Idul Fitri seharusnya dimaknai lebih dalam sebagai momentum spiritual untuk kembali kepada kesucian diri (fitrah), bukan sekadar tradisi tahunan yang identik dengan pakaian baru, hidangan istimewa, atau kemeriahan berkumpul bersama keluarga.

Hal tersebut disampaikan oleh Ust. Muh. Yusuf., S.Hd., M.Ag dalam Program Spesial Ramadhan Pro 2 Makassar bertajuk “Tanya Pak Ustadz” dengan tema “Kemenangan Hakiki: Idul Fitri yang Sebenarnya.” Dalam pemaparannya, ia mengajak umat Islam memahami makna mendalam dari perjalanan spiritual selama bulan Ramadhan hingga tiba hari kemenangan.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, Ramadhan memiliki keutamaan besar. Selain diwajibkannya puasa, umat Islam juga dianjurkan menghidupkan malam dengan ibadah seperti qiyamulail.

Ia mengutip makna hadis yang menjelaskan bahwa siapa yang berpuasa dan menghidupkan malam Ramadhan dengan iman dan keikhlasan, maka dosa-dosanya akan diampuni hingga ia kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan.

“Ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya ritual fisik menahan lapar dan dahaga, tetapi proses penyucian total — hati, pikiran, dan perilaku,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa fitrah merupakan potensi kemuliaan yang telah Allah tanamkan sejak manusia dilahirkan. Potensi iman dan kebaikan itu perlu dijaga sepanjang hidup. Namun, dalam realitas kehidupan, banyak manusia yang justru mengabaikan potensi tersebut hingga kesucian jiwanya tertutupi.

Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali, ia menyebutkan bahwa terdapat tiga indikator utama seseorang benar-benar meraih kemenangan di hari Idul Fitri. Pertama, kembali kepada fitrah, yakni menjadi pribadi yang bersih dari dosa serta meneguhkan tauhid kepada Allah sebagaimana kondisi manusia saat pertama diciptakan. Kedua, meningkatnya kualitas ketaatan, yaitu ibadah tidak berhenti setelah Ramadhan berakhir. Menurutnya, Idul Fitri sejatinya milik mereka yang tetap istiqamah dalam salat, tilawah, dan amal kebaikan lainnya. Ketiga, kemenangan melawan hawa nafsu, yakni keberhasilan mengendalikan diri dari perilaku buruk, baik dalam ucapan maupun tindakan.

Ia juga menekankan bahwa makna Idul Fitri harus diwujudkan dalam sikap nyata di tengah kehidupan sosial. Beberapa bentuk implementasi tersebut antara lain:

  1. Konsistensi ibadah, menjaga salat dan amal saleh setelah Ramadhan.
  2. Saling memaafkan, menghapus dendam dan membuka lembaran baru hubungan antarsesama.
  3. Menyucikan harta, melalui zakat fitrah serta memperbanyak sedekah.
  4. Mempererat silaturahmi, menyambung kembali hubungan keluarga dan tetangga yang sempat renggang.
  5. Menjaga lisan dan hati, menjauhi kesombongan, fitnah, dan kebiasaan mencari kesalahan orang lain.

Menurutnya, jika nilai-nilai tersebut mampu dipertahankan, maka Idul Fitri benar-benar menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih berkah.

“Ramadhan seharusnya membentuk karakter manusia yang lebih santun, penyayang, dan memiliki sifat rabbani. Jadi kemenangan bukan pada kemeriahan perayaan, tetapi pada perubahan diri yang lebih baik,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....