Ini Dua Penentu Kehormatan Manusia Menurut Al Quran

  • 15 Mar 2026 09:31 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Dalam rangkaian ibadah Ramadan yang penuh berkah, sebuah pesan menyentuh dalam Ceramah Subuh yang disiarkan Pro 1 RRI mengenai dua penentu utama kehormatan seorang manusia, yakni lidah dan hati. Lidah dan hati ditegaskan memiliki dua kekuatan ganda, yaitu mampu mengantarkan seseorang menjadi sosok yang terhormat dan mulia, namun juga bisa menjatuhkan seseorang ke derajat yang paling rendah jika tidak dijaga dengan benar.

Muballigh Makassar, Asmullah menjelaskan bahwa lisan manusia diibaratkan sebagai pintu masuknya berbagai potensi dosa besar seperti dusta, ghibah (menceritakan kejelekan orang lain), namimah (adu domba), hingga sumpah palsu. " Di sisi lain, lidah yang sama memiliki potensi luar biasa untuk melakukan kebaikan melalui zikir, membaca ayat suci Al-Qur'an, dan menyampaikan amar ma'ruf nahi ki munkar," ucap Asmullah, Minggu, 15 Maret 2026.

Lebih lanjut dikatakan, ulama sufi membagi hati kepada tiga bagian. Yaitu, Al-Qolbus Salim (hati yang sehat/selamat), hati yang mati, dan Al-Qolbul Marid (hati yang sakit).

"Pertama, Al-Qolbus Salim (hati yang sehat/selamat) merupakan hati yang senantiasa mengenal Tuhannya dan bergetar saat mendengarkan ayat suci Al-Qur'an. Itu suka mendengarkan ayat suci Al-Quran, suka membaca ayat suci Al-Quran, suka melakukan sholat tahajud, sholat dhuha, puasa senin kamis, itu adalah menandakan bahwa hatinya sehat mudah-mudahan kita semua punya hati yang sehat,” jelas Asmullah.

Kedua, hati yang mati digambarkan sebagai kondisi seseorang tidak lagi mengenal penciptanya dan abai terhadap panggilan ibadah. Digambarkan, orang dengan hati yang mati mungkin sangat hafal lokasi kuliner enak atau pusat perbelanjaan yang ramai, namun buta terhadap jalan menuju masjid.

Asmullah menjelaskan bahwa komando utama dalam diri orang-orang yang hatinya mati bukanlah keimanan melainkan hawa nafsu yang telah menutup pendengaran dan penglihatannya dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang tersebar di alam semesta. Asmullah berharap agar jemaah subuh tidak termasuk ke dalam golongan orang yang hatinya mati.

"Terakhir, Al-Qolbul Marid (hati yang sakit). Kondisi ini berbeda dengan hati yang mati, hati yang sakit masih bisa diobati dengan "resep" dari para ulama, yakni melalui istighfar dan doa," kata Asmullah.

Mengamalkan istighfar, seperti yang dicontohkan Nabi Yunus AS atau istighfar Abu Nawas, diyakini bukan hanya menjadi obat batin tetapi juga menjadi salah satu dari tujuh pintu rezeki. Dengan menjaga kebersihan hati dan lisan, diharapkan setiap orang dapat meraih kemenangan sejati yang melampaui kebahagiaan duniawi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....