Wudhu Sebagai Sekuriti Batin dari Penyakit Hati Menular
- 10 Mar 2026 10:39 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Dr. H. Maskur Yusuf dalam ceramahnya dihadapan para jamaah tarawih di Mesjid Raya Makassar, Minggu 1 Maret 2026 menyampaikan bahwa indikator kesucian seseorang saat memasuki bulan mulia ini dapat dilihat dari ringannya menjalankan ibadah. "Ramadan hakikatnya hanya menerima orang yang suci. Jika ada orang yang beribadah terasa berat padahal ia sehat, itu tanda-tanda ia memasuki Ramadan dalam keadaan tidak suci," ungkap Dr. Maskur Yusuf.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa setiap muslim harus berusaha menjaga kesucian saat Ramadan, tetapi juga hingga usai ramadan. Menurutnya, konsistensi dalam menjaga kebersihan jiwa dan raga akan membawa keberkahan yang berkelanjutan.
| Baca juga: Keutamaan 10 Hari Pertama Ramadhan |
"Mari kita benar-benar mensucikan diri di bulan suci ini, dan nanti ketika berpisah dengan Ramadan, kita tetap dalam keadaan suci untuk kemudian bertemu kembali dengan Ramadan berikutnya," jelasnya.
Salah satu tokoh agama ini menyebutkan bahwa, Nabi Muhammad sangat memperhatikan kesucian jasmani sebagai bagian dari gaya hidup. "Rasulullah SAW tentu menjaga kesucian jasmaninya sebagaimana kita; beliau mandi, bersisir, memotong kuku, hingga mencukur rambut secara rutin," sebut Maskur.
| Baca juga: Ayat-Ayat Tentang Puasa Ramadhan |
"Kita kebanyakan hanya peduli terhadap kesucian jasmani, tetapi belum peduli secara maksimal atas kesucian rohani. Padahal dalam kehidupan, kita diharapkan menyelaraskan antara keduanya," tambahnya.
Dr. Maskur menambahkan bahwa menjaga wudhu memiliki keutamaan yang luar biasa, terutama dalam melipatgandakan pahala dari setiap amal kebaikan yang dilakukan. Ia mencontohkan perbedaan nilai pahala membaca Al-Qur'an antara orang yang memiliki wudhu dengan yang tidak.
"Orang yang selalu dalam keadaan berwudhu berpotensi mendapat pahala lebih besar. Baca Qur'an ada wudhu itu sepuluh pahala satu huruf, sedangkan tanpa wudhu hanya satu pahala satu huruf," terangnya dihadapan para jamaah.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa wudhu berfungsi sebagai pelindung diri dari perbuatan maksiat dan penyakit hati seperti sombong, ghibah, maupun fitnah. "Wudhu yang baik akan menjadi sekuriti yang menegur kita agar jangan mengambil hak orang lain, jangan korupsi, hingga jangan sombong, karena ia sudah melekat sebagai polisi dalam diri kita," pungkas Dr. Maskur Yusuf.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....