Ramadan Sebagai Madrasah Pendidikan Taqwa
- 03 Mar 2026 08:25 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Suasana malam ke-13 Ramadan di Masjid Al Muawanah RRI Makassar berlangsung khidmat. Hadir sebagai penceramah, Dr. H. Muhammad Rusli, SHI., MH., yang membawakan materi mendalam namun segar mengenai esensi Ramadan sebagai madrasah pendidikan taqwa, Senin, 02 Maret 2026. Dalam ceramahnya, Dr. Muhammad Rusli menekankan bahwa tujuan utama Ramadan adalah membentuk pribadi yang bertaqwa melalui puasa yang dijalani secara lahir dan batin, bukan sekadar formalitas.
Ia menyoroti fenomena masyarakat yang masih memahami puasa secara tekstual dan ikut-ikutan budaya lama. "Ada orang kalau ditanya puasanya bagaimana, dia jawab tiga kali saja: awal, tengah, dan akhir Ramadan. Alasannya karena nenek moyang dulu begitu. Ini pemahaman yang keliru," ujar beliau yang disambut tawa kecil jamaah.
| Baca juga: Pesmadina Unismuh Tutup Daurah Al-Qur’an VI |
Ia juga menyentil realita sosial mengenai warung makan yang bermetamorfosis selama Ramadan. Dr. Rusli mengisahkan bagaimana warung-warung tutup di awal Ramadan karena dorongan lahiriah, namun mulai terbuka di hari-hari berikutnya dengan taktik gorden. "Hari keempat, warung sudah buka tapi pakai gorden. Di atas tertutup, di bawah kelihatan kaki (Kentucky: kentara kaki). Katanya takut dilihat Tuhan, padahal itu hanya puasa lahirnya saja, batinnya tidak," tegasnya.
Di tengah ceramah, Dr. Rusli melakukan diskusi interaktif dengan jamaah mengenai sejarah turunnya perintah puasa. Ia mengingatkan bahwa perintah puasa (QS. Al-Baqarah: 183) sebenarnya turun pada bulan Sya'ban, bukan di bulan Ramadan.Beliau sempat menguji hafalan jamaah mengenai urutan bulan Hijriah untuk mengingatkan pentingnya literasi bagi umat Islam. "Sudah umur 45 tahun jadi Muslim, tapi urutan bulan setelah Ramadan dan Syawal masih ada yang tertukar. Kita harus hafal karena ini identitas kita," pesannya.
Sebagai penutup, Dr. Rusli menjelaskan bahwa output dari pendidikan Ramadan akan membagi manusia menjadi dua golongan setelah Idul Fitri nanti yaitu Hamba Rabbani, Mereka yang ibadahnya istiqomah. Mengaji, infak, dan salatnya tetap terjaga meski Ramadan telah usai. Ramadan bagi mereka adalah momentum peningkatan, bukan sekadar musiman. Kemudian ada juga Hamba Ramadhani, Mereka yang hanya taat saat bulan Ramadan saja. Masjid ramai, saf penuh, dan mendadak khatam Al-Qur'an hanya karena suasana Ramadan, namun kembali abai setelah bulan suci berlalu.
"Taqwa adalah fase tertinggi. Itulah sebabnya Idul Fitri sebenarnya adalah hak bagi mereka yang benar-benar berpuasa dengan iman dan proses yang tuntas, bukan sekadar ikut lebaran," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....