Barongko: Kelezatan Tradisional Makassar yang Sarat Makna Filosofis
- 22 Apr 2025 09:14 WIB
- Makassar
KBRN, Makassar: Barongko merupakan kue tradisional yang berasal dari Bugis-Makassar, terkenal karena rasa manisnya yang unik serta gurih. Kue ini disiapkan dengan cara menghaluskan pisang kepok yang sudah matang, kemudian mencampurkannya dengan santan, gula, dan telur.
Tak jarang, irisan nangka (panasa) juga ditambahkan. Campuran ini lalu dibungkus dengan daun pisang sebelum dikukus hingga benar-benar matang. Dengan tekstur yang lembut dan aroma yang khas, barongko menjadi favorit di berbagai acara, baik dinikmati dalam keadaan hangat maupun dingin.
Barongko lebih dari sekadar hidangan yang nikmat. Dalam tradisi Bugis-Makassar, kue ini mengandung makna filosofis yang mendalam. Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, kata "barongko" berasal dari ungkapan Bugis "barangku mua udoko," yang berarti "barangku sendiri yang aku bungkus." Frasa ini menunjukkan nilai "siri'" atau harga diri, yang menekankan pentingnya menjaga martabat serta kehormatan diri dan keluarga.
Filosofi yang ada dalam barongko juga terlihat dari hubungan antara bahan dan pembungkusnya. Pisang yang menjadi bahan utama dibalut dengan daun pisang, menyimbolkan kejujuran dan keselarasan antara pikiran, perasaan, dan tindakan. Dalam konteks pernikahan, hal ini mencerminkan harapan akan keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga, di mana kedua mempelai saling memiliki hati dan perilaku yang baik.
Penambahan irisan nangka (panasa) pada barongko juga mengandung makna simbolik. Dalam tradisi Bugis, panasa melambangkan kesucian dan kejujuran. Ungkapan Bugis "Iyyana kuala sappo unganna panasaé nabélona kanukué" mengartikan bahwa integritas dalam rumah tangga adalah kejujuran dan kesucian, nilai-nilai yang diharapkan ada dalam kehidupan berumah tangga.
Barongko lebih dari sekadar kue klasik; ia adalah bagian dari warisan budaya takbenda Indonesia. Pada tahun 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengakui statusnya sebagai warisan budaya dengan nomor SK 60128/MPK.E/KB/2017. Penetapan ini bertujuan untuk melestarikan identitas budaya Bugis-Makassar dan menjaga agar tidak ada klaim dari negara lain.
Sebagai simbol budaya yang sarat akan arti, barongko tetap berperan penting dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar. Ketersediaannya dalam berbagai acara adat maupun keagamaan menunjukkan bahwa kue ini bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga merupakan representasi dari nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh komunitasnya.
Berikut langkah-langkah membuat Barongko:
Bahan-bahan:
10 buah pisang raja (atau pisang kepok matang), haluskan
4 butir telur
200 ml santan kental
10 sdm gula pasir (sesuai selera)
1/2 sdt garam
1 sdt vanili bubuk (opsional)
Daun pisang untuk membungkus (layukan di atas api agar lentur)
Lidi/peniti untuk menyemat
Cara Membuat:
Haluskan pisang sampai benar-benar lembut
Dalam wadah, kocok lepas telur, lalu campurkan dengan pisang yang sudah dihaluskan.
Tambahkan santan, gula, garam, dan vanili. Aduk rata sampai adonan tercampur sempurna.
Siapkan daun pisang, tuang 2-3 sendok makan adonan ke tengah daun.
Bungkus dan semat ujungnya dengan lidi seperti membungkus pepes.
Kukus dalam dandang panas selama 25–30 menit hingga matang.
Angkat dan dinginkan. Barongko bisa disajikan hangat atau dingin (lebih nikmat jika didinginkan di kulkas dulu).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....