Ikan Karang Besar Berisiko Racun, Kenali Bahaya Ciguatera sejak Dini

  • 01 Sep 2026 14:40 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, MAKASSAR - Ikan karang menjadi salah satu sumber protein laut yang banyak dikonsumsi masyarakat, tetapi sebagian jenisnya dapat membawa racun alami yang berbahaya bagi manusia. Risiko tersebut melansir who.int berkaitan dengan ciguatoksin yang dapat terakumulasi pada ikan pemangsa di ekosistem terumbu karang.

Ciguatoksin berasal dari organisme laut mikroskopis yang disebut dinoflagelata melansir rilis cdc.gov, terutama kelompok Gambierdiscus yang hidup menempel pada alga dan permukaan karang. Ikan herbivora memakan organisme tersebut, kemudian racunnya berpindah dan semakin terkonsentrasi ketika ikan tersebut dimakan oleh ikan pemangsa yang lebih besar.

Proses penumpukan racun melalui rantai makanan dikenal sebagai bioakumulasi dan biomagnifikasi, sehingga ikan karang yang berumur lebih panjang dan berada pada tingkat trofik tinggi cenderung memiliki risiko lebih besar. Jenis yang pernah dikaitkan dengan ciguatera antara lain kerapu, kakap, barakuda, amberjack, dan beberapa ikan pemangsa lainnya.

Ukuran ikan juga perlu menjadi perhatian karena ikan yang semakin besar biasanya memiliki umur lebih panjang dan telah memangsa lebih banyak organisme selama hidupnya. Namun, ukuran lebih dari 2 kilogram bukan batas ilmiah mutlak bahwa ikan pasti beracun, melainkan ukuran besar dapat menjadi salah satu indikator meningkatnya kemungkinan akumulasi ciguatoksin pada spesies dan wilayah tertentu.

Bahaya ciguatoksin terletak pada sifatnya yang tidak mudah dikenali secara inderawi karena ikan yang tercemar dapat tetap terlihat, berbau, dan terasa normal. Racun tersebut juga tidak hilang melalui proses memasak, pembekuan, atau pengeringan sehingga pengolahan ikan tidak menjamin ciguatoksin menjadi aman.

Keracunan ciguatera dapat menimbulkan mual, muntah, diare, sakit perut, kesemutan, gatal, pusing, nyeri otot, kelemahan, hingga gangguan dalam merasakan suhu panas dan dingin. Pada kondisi berat, gangguan irama jantung dan tekanan darah rendah dapat terjadi, sementara sebagian gangguan saraf dapat bertahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Risiko semakin perlu diperhatikan ketika masyarakat mengonsumsi ikan karang berukuran besar dari wilayah yang memiliki kondisi lingkungan yang mendukung keberadaan dinoflagelata penghasil ciguatoksin. Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan melansir juknis ppid.kkp.go.id bahwa wilayah terumbu karang Indonesia berpotensi mengalami blooming organisme penghasil ciguatoksin dan menyebut ikan seperti kakap, kerapu, baronang, serta barakuda sebagai kelompok yang perlu diwaspadai.

Jika setelah mengonsumsi ikan karang muncul gangguan pencernaan, kesemutan, mati rasa, perubahan sensasi panas dan dingin, atau gangguan jantung, kondisi tersebut perlu segera mendapat pemeriksaan medis. Konsumen juga perlu mengetahui jenis dan lokasi penangkapan ikan, karena tingkat kontaminasi tidak selalu sama pada ikan yang berasal dari wilayah yang sama atau memiliki ukuran yang serupa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....