Devil Crab, Kepiting Laut Unik Terlarang untuk Diolah dan Dikonsumsi

  • 27 Jul 2026 11:35 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kepiting menjadi salah satu hasil laut yang banyak dikonsumsi karena dagingnya kaya protein dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun, tidak semua jenis kepiting aman untuk dimakan. Di antara ratusan spesies yang hidup di perairan tropis, terdapat Devil Crab atau Toxic Reef Crab (Zosimus aeneus), salah satu kepiting laut paling beracun di dunia. Para ahli biologi laut telah lama mengidentifikasi spesies ini sebagai hewan yang mampu menyimpan racun saraf sangat kuat pada jaringan tubuhnya sehingga tidak layak diolah maupun dikonsumsi manusia.

Devil Crab mudah dikenali melalui corak cangkangnya yang mencolok. Permukaan karapasnya berwarna krem hingga cokelat muda dengan pola merah, ungu, atau biru tua yang menyerupai mosaik. Kepiting ini hidup di kawasan terumbu karang Indo-Pasifik, mulai dari Laut Merah, Asia Tenggara, Australia utara, hingga Kepulauan Hawaii. Warna tubuhnya yang kontras bukan sekadar hiasan alami, tetapi juga berfungsi sebagai sinyal peringatan bagi predator bahwa hewan tersebut berbahaya.

Bahaya utama Devil Crab berasal dari kandungan tetrodotoksin dan saksitoksin, dua neurotoksin yang menyerang sistem saraf manusia. Melansir pmc.ncbi.nlm.nih.Tetrodotoksin juga dikenal sebagai racun yang ditemukan pada ikan buntal, sedangkan saksitoksin merupakan penyebab utama lumpuh keracunan kerang atau paralytic shellfish poisoning. Kedua racun tersebut menghambat penghantaran impuls saraf sehingga dapat menyebabkan mati rasa pada bibir dan lidah, kelemahan otot, kelumpuhan, gangguan pernapasan, hingga kematian pada kasus berat. Yang paling berbahaya, racun tersebut tetap aktif meskipun kepiting telah direbus, digoreng, atau dibakar karena tidak rusak oleh proses pemanasan biasa.

Racun mematikan tersebut secara ilmiah tidak diproduksi langsung oleh tubuh kepiting, melainkan terakumulasi dari rantai makanan, termasuk mikroorganisme dan organisme laut tertentu yang menjadi bagian dari habitat terumbu karang. Akumulasi racun ini kemudian tersimpan pada jaringan otot dan organ tubuh kepiting. Karena kadar toksin dapat berbeda pada setiap individu, tidak ada cara sederhana untuk menentukan apakah seekor Devil Crab aman dimakan hanya berdasarkan ukuran, warna, atau lokasi penangkapannya. Kondisi inilah yang membuat spesies tersebut dianggap berisiko tinggi untuk dikonsumsi. Devil Crab dapat menyebabkan kematian hanya dalam beberapa jam setelah dikonsumsi dan menjadi salah satu contoh kepiting beracun yang paling dikenal di kawasan Indo-Pasifik.

Keberadaan Devil Crab menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati laut tidak selalu identik dengan sumber pangan. Spesies ini memiliki peran ekologis sebagai bagian dari ekosistem terumbu karang, tetapi bukan untuk dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Identifikasi spesies sebelum menangkap atau mengolah hasil laut menjadi langkah penting bagi nelayan, penyelam, maupun masyarakat pesisir untuk mencegah keracunan yang dapat berakibat fatal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....