Waspada Henti Jantung Mendadak, Kenali Tanda dan Faktor Risikonya

  • 12 Jun 2026 18:22 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Henti jantung atau sudden cardiac arrest adalah kondisi gawat darurat ketika jantung tiba-tiba berhenti memompa darah ke seluruh tubuh akibat gangguan sistem kelistrikan jantung. Saat terjadi, aliran darah ke otak dan organ vital langsung terhenti sehingga korban dapat kehilangan kesadaran hanya dalam hitungan detik.

Melansir mayoclinic henti jantung berbeda dengan serangan jantung. Serangan jantung terjadi karena sumbatan aliran darah ke otot jantung, sedangkan henti jantung terjadi karena gangguan irama listrik jantung yang menyebabkan jantung berhenti berdetak secara efektif. Dalam beberapa kasus, serangan jantung dapat memicu terjadinya henti jantung.

Gejala utama henti jantung biasanya muncul secara mendadak berupa pingsan, tidak bernapas, tidak ada denyut nadi, dan tidak merespons saat dipanggil atau disentuh. Sebagian orang dapat mengalami tanda peringatan beberapa menit hingga beberapa hari sebelumnya, seperti nyeri dada, sesak napas, tubuh terasa lemah, pusing, atau jantung berdebar tidak teratur.

Gejala awal ini sering diabaikan karena dianggap sebagai keluhan biasa, padahal dapat menjadi sinyal adanya gangguan serius pada fungsi jantung. Ketika seseorang mengalami henti jantung, pertolongan pertama harus diberikan secepat mungkin karena peluang hidup korban menurun setiap menit tanpa tindakan. Langkah awal yang paling penting adalah segera menghubungi layanan darurat medis, memastikan korban berada di tempat yang aman, lalu memeriksa kesadaran dan pernapasannya.

Jika korban tidak bernapas normal dan tidak merespons, tindakan resusitasi jantung paru atau CPR harus segera dimulai sambil menunggu bantuan medis datang. CPR dilakukan dengan memberikan tekanan kuat dan cepat pada bagian tengah dada untuk membantu mempertahankan aliran darah ke otak dan organ vital.

Pentingnya kompresi dada yang dilakukan secara terus-menerus oleh penolong awam jika belum terlatih memberikan napas, maka bantuan alat Automated External Defibrillator (AED), alat tersebut harus digunakan sesegera mungkin karena dapat memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung yang normal pada kondisi tertentu. Risiko henti jantung meningkat pada individu yang memiliki penyakit jantung koroner, riwayat serangan jantung, gangguan irama jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, serta kurang aktivitas fisik.

Beberapa kelainan genetik yang memengaruhi sistem kelistrikan jantung juga dapat meningkatkan risiko terjadinya henti jantung mendadak, bahkan pada orang yang tampak sehat. Pencegahan henti jantung berfokus pada menjaga kesehatan jantung secara menyeluruh.

Pola makan seimbang, olahraga teratur, berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, mengendalikan tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol merupakan langkah yang terbukti membantu menurunkan risiko. Orang yang memiliki penyakit jantung atau riwayat gangguan irama jantung, konsultasi rutin dengan dokter sangat diperlukan agar kondisi yang berpotensi memicu henti jantung dapat ditangani lebih awal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....