FOMO, Gejala Kecemasan Sosial Akut yang Mengintai Generasi Muda
- 10 Jun 2026 10:44 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, MAKASSAR - Di tengah masifnya penetrasi internet dan penggunaan gawai, fenomena psikologis Fear of Missing Out atau FOMO kian jamak dijumpai di masyarakat. Istilah yang pertama kali dicetuskan pada tahun 2004 oleh Dan Herman dalam penelitian tentang kecemasan sosial ini, kini menjelma menjadi momok nyata, khususnya bagi generasi muda hingga awal usia 30-an.
FOMO bukan sekadar istilah tren, melainkan sebuah kondisi kecemasan sosial akut di mana seseorang merasa takut dan khawatir secara berlebihan akan tertinggal dari momen populer, tren terkini, atau aktivitas seru yang sedang dilakukan oleh orang lain. Mengidentifikasi seseorang yang terjebak dalam lingkaran FOMO sebenarnya tidaklah sulit, karena gejalanya kerap terlihat dari perilaku sehari-hari.
Berdasarkan data yang dihimpun dari laman kesehatan Halodoc.com, salah satu ciri paling kentara adalah penggunaan media sosial secara berlebihan. Seseorang yang mengalami FOMO cenderung tenggelam dalam dunia maya dan melakukan scrolling tanpa henti demi meredakan kecemasannya. Padahal, perilaku ini justru mengecoh pikiran dan menghambat kemampuan mereka untuk menikmati kehidupan nyata yang sebenarnya.
Selain ketergantungan pada gawai, pengidap FOMO juga kerap dihantui rasa takut ditolak dan dikucilkan dari kelompok sosialnya. Alasan inilah yang memaksa mereka untuk selalu up to date agar bisa diterima oleh lingkungan. Akibatnya, muncul sikap ekstrem di mana mereka memaksakan diri terlibat dalam berbagai kegiatan atau acara, meskipun aktivitas tersebut sama sekali tidak sesuai dengan minat maupun kebutuhan pribadi mereka. Keterlibatan yang dipaksakan ini dipicu oleh rasa tidak aman jika dilewati atau diabaikan oleh lingkaran pertemanannya.
Gejala lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah kecenderungan untuk terlalu berkomitmen (overcommitted). Demi mengamankan peluang dan pengalaman hidup agar tidak dicap "kurang update", orang yang FOMO akan mengambil semua agenda hingga menguras energi fisik dan mental. Ironisnya, meski sudah terlibat dalam banyak aktivitas, mereka sering kali tidak pernah merasa puas. Pikiran mereka selalu terbagi dan mencari sensasi baru yang lebih menarik di tempat lain, sehingga kepuasan hidup selalu tertunda akibat keinginan yang terus-menerus menggebu-gebu.
Fenomena ini turut diperkuat oleh hasil riset ilmiah yang dimuat dalam jurnal BMC Psychology. Studi tersebut berhasil mengkaji hubungan erat antara perilaku kesendirian, FOMO, dan kesehatan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang melakukan penghindaran sosial atau merasa kesepian, mereka menjadi jauh lebih rentan merasakan FOMO, yang pada akhirnya memicu masalah mental serius seperti kecemasan atau depresi. Sebaliknya, kesendirian yang dipilih secara positif (solitude) justru tidak berdampak negatif, sehingga perbaikan hubungan sosial yang nyata menjadi kunci penting untuk mereduksi sindrom ini.
Jika dibiarkan tanpa penanganan, FOMO berpotensi membawa dampak buruk yang merusak kualitas hidup secara keseluruhan. Dampak yang paling nyata adalah timbulnya stres dan kecemasan tinggi karena merasa kewalahan menghadapi tekanan situasi terkini. Selain merusak keseimbangan emosional, kondisi ini membuat seseorang menjadi tidak fokus dan tidak produktif di dunia kerja atau akademis. Pikiran yang terpecah-pecah membuat kualitas serta efisiensi pekerjaan menurun drastis, yang kemudian memicu siklus stres baru akibat tugas-tugas yang terbengkalai.
Kerugian lain dari sindrom ini menyasar pada aspek personal dan kesehatan fisik, di mana pengidapnya cenderung kesulitan membangun hubungan emosional yang mendalam. Hubungan sosial yang mereka jalin umumnya terasa dangkal dan sekadar permukaan, karena perhatian mereka selalu terdistraksi oleh apa yang terjadi di tempat lain. Tidak hanya itu, beban psikologis akibat FOMO secara signifikan dapat memicu gangguan tidur atau insomnia. Keinginan kompulsif untuk terus mengecek media sosial sepanjang malam merusak pola tidur dan berujung pada penurunan kinerja fisik di siang hari.
Kendati FOMO berpotensi mengganggu jam tidur, meningkatkan kecemasan, hingga menurunkan rasa percaya diri, kondisi ini sejatinya bisa diatasi dengan langkah-langkah yang efektif. Halodoc.com menyarankan beberapa cara tepat untuk terhindar dari FOMO, di antaranya dengan membatasi waktu penggunaan media sosial setiap hari dan mulai fokus pada pengembangan minat pribadi. Selain itu, mempraktikkan mindfulness untuk melatih kesadaran diri, meluangkan waktu untuk bersyukur atas hal-hal positif, serta berinvestasi pada hubungan nyata yang bermakna di dunia nyata akan menjadi benteng pertahanan terbaik dalam menjaga kesehatan mental dari pusaran arus digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....