Kelelahan Jiwa, Sinyal Tubuh dan Pikiran Capai Batas Optimal

  • 26 Mei 2026 19:29 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar - Kelelahan jiwa bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah sinyal bahwa tubuh dan pikiran telah mencapai batas optimalnya setelah sekian lama bertahan dalam tekanan. Demikian disampaikan Novita Maulidya Jalal, seorang Psikolog dalam perbincangan Pengarusutamaan Gender Pro 1 RRI Makassar, Senin, 25 Mei 2026.

Kelelahan yang dirasakan oleh jiwa dan psikologis manusia pada hakikatnya adalah sebuah mekanisme alarm alami tubuh. Sama seperti tubuh fisik yang memicu demam saat membutuhkan istirahat, jiwa yang lelah jugaa mengisyaratkan kebutuhan mendalam akan sebuah jeda.

"Jeda ini bukanlah sebuah kemunduran atau tanda kekalahan, melainkan sebuah ruang untuk melakukan refleksi diri, menata kembali emosi, serta menyelaraskan tujuan hidup yang sempat kabur akibat rutinitas." Ujar Novita.

Ia mengatakan, Sebagai langkah pencegahan agar kelelahan jiwa tidak terjadi secara berlarut-larut, penerapan metode mindfulness atau kesadaran penuh dalam setiap aktivitas sangat direkomendasikan. Menikmati setiap momen yang sedang dijalani tanpa membiarkan pikiran berkelana ke hal-hal di luar kendali merupakan kunci utama.

“setiap detik, setiap menit kita optimalkan saja, Jadi kalau sedang mengetik, mengetik saja, tidak usah pikirkan hal-hal di luar yang kita tidak kerjakan saat ini. Melalui relasi yang baik dengan diri sendiri dan pemberian jeda yang cukup, kesehatan mental perempuan akan tetap terjaga di tengah padatnya aktivitas,” tuturnya.

Dikatakan, Beban kerja yang memicu kelelahan ini pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor struktural maupun personal. Beban tersebut bisa terjadi karena volume tugas yang memang terlalu banyak, atau akibat keterbatasan sumber daya pendukung saat tugas tersebut harus diselesaikan.

"Ketika seorang perempuan merasa kapasitas dirinya mulai menipis untuk menangani semuanya sendiri, komunikasi yang efektif dan kolaborasi menjadi langkah krusial yang harus segera diambil. " Sambung Novita

"Saran saya, ketika memang tugasnya yang banyak itu kita dituntut untuk menyelesaikannya, kita bisa melakukan kolaborasi, Kita bisa mengajak orang lain bekerja sama, selama itu adalah tupoksi kerja teman kita, Langkah ini menjadi solusi bersama agar beban tidak menumpuk pada satu individu saja." Imbuhnya.

Tidak hanya kolaborasi di lingkungan kerja, menyalurkan penat melalui tempat bersandar atau teman curhat juga menjadi alternatif untuk melepaskan beban emosional. Namun, pemilihan teman bicara ini harus dilakukan secara selektif agar proses tersebut benar-benar memberikan ketenangan, bukan justru menambah beban pikiran baru.

Kehadiran sosok yang mampu mendengar tanpa menghakimi adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh perempuan yang sedang mengalami kelelahan jiwa.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....