Edukasi P4GN dalam Perspektif Kesehatan Masyarakat oleh BNN Sulsel

  • 03 Apr 2026 17:13 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar - Upaya Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) kini semakin gencar dilakukan dengan pendekatan medis yang lebih humanis. Dalam siaran PRO1 RRI Makassar edisi Jumat, 3 April 2026, topik ini dibahas secara mendalam bersama Nur Fajriah, S.Farm., Apt., M.Tr.Adm Kes, seorang Konselor Adiksi dari BNN Provinsi Sulawesi Selatan. Dipandu oleh penyiar Risna Supratio, siaran ini menitikberatkan pada pentingnya memandang penyalahgunaan narkoba bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan ancaman serius terhadap kesehatan fisik dan mental yang memerlukan penanganan tepat.

Nur Fajriah menjelaskan bahwa narkotika bekerja dengan cara merusak sistem saraf pusat dan mengganggu keseimbangan neurotransmiter di otak. “Dampaknya tidak hanya terasa secara instan melalui efek euforia sesaat, tetapi juga merusak organ vital seperti jantung, hati, dan ginjal dalam jangka panjang”. Sebagai seorang ahli farmasi dan konselor, ia menekankan bahwa pemulihan bagi penyalahguna narkoba harus dimulai dari pemahaman bahwa mereka adalah individu yang sedang sakit secara fisiologis dan psikologis, sehingga membutuhkan intervensi medis yang berkelanjutan.

Dalam perspektif kesehatan, P4GN bertujuan untuk memutus rantai ketergantungan melalui edukasi yang berbasis pada data ilmiah. Nur Fajriah menyoroti bagaimana zat-zat adiktif dapat mengubah struktur otak sehingga seseorang kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Oleh karena itu, edukasi P4GN tidak lagi hanya berisi larangan, tetapi juga penjelasan mengenai risiko kerusakan sel otak yang bisa bersifat permanen jika tidak segera ditangani melalui proses rehabilitasi yang terstruktur.

Mengenai mekanisme kerusakan zat tersebut terhadap tubuh manusia, Nur Fajriah memberikan penjelasan teknis namun mudah dipahami mengenai sifat adiksi yang merusak."Narkoba adalah zat kimia yang membajak sistem imbalan di otak kita. Ketika seseorang terpapar secara terus-menerus, tubuh akan mengalami adaptasi patologis yang merusak metabolisme sel. Penanganan P4GN dari sisi kesehatan bukan hanya soal berhenti memakai, tapi bagaimana kita memulihkan fungsi-fungsi organ yang telah rusak dan mengembalikan regulasi emosi pasien agar kembali stabil," jelas Nur Fajriah.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa keberhasilan P4GN sangat bergantung pada deteksi dini di lingkungan keluarga. Seringkali masyarakat terlambat menyadari gejala awal penyalahgunaan karena minimnya literasi kesehatan terkait ciri-ciri fisik dan perubahan perilaku pecandu. Dengan adanya edukasi yang masif melalui media secara masif, diharapkan masyarakat Makassar lebih proaktif dalam melaporkan anggota keluarga yang terpapar untuk mendapatkan rehabilitasi medis tanpa rasa takut akan stigma sosial atau jeratan pidana.

Peran BNN Provinsi Sulawesi Selatan dalam hal ini terus mengedepankan layanan rehabilitasi yang mengintegrasikan aspek farmakoterapi dan konseling perilaku. “Konselor adiksi berperan penting dalam memandu pasien melewati masa sakau (withdrawal) hingga mencapai fase pulih yang stabil. Pendekatan kesehatan ini dianggap jauh lebih efektif dalam menekan angka prevalensi penyalahguna narkoba dibandingkan dengan sekadar memberikan sanksi hukuman tanpa adanya perbaikan fungsi biologis,” lanjutnya.

Nur Fajriah mengajak seluruh pendengar dan masyarakat luas untuk menjadikan kesehatan sebagai motivasi utama dalam menjauhi narkoba. “ Sehat merupakan aset paling berharga yang tidak dapat ditukar dengan kesenangan semu dari zat adiktif. Dengan pemahaman P4GN yang kuat dari sudut pandang kesehatan, diharapkan masyarakat Sulawesi Selatan dapat membangun imunitas diri yang kokoh demi masa depan generasi yang lebih produktif dan berkualitas” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....