Bukan Karbohidrat, Menu Sahur Ini Disarankan Ade Rai

  • 01 Mar 2026 11:24 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Pakar kebugaran Ade Rai membagikan strategi khusus agar tubuh tetap bugar dan optimal melakukan pembakaran lemak selama menjalankan ibadah puasa. Dikutip dari kanal YouTube Dunia Ade Rai, ia menyebut Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, melainkan momentum bagi tubuh melakukan proses pembersihan.

Ade Rai menyebut kunci keberhasilan transformasi fisik tersebut terletak pada pengaturan strategi makan saat sahur dan berbuka. " Sahur merupakan momen krusial untuk menentukan sumber energi tubuh sepanjang hari," kata Ade Ra.

Ia menyarankan masyarakat untuk meminimalisir konsumsi karbohidrat seperti nasi atau mie saat sahur agar tidak terjadi lonjakan gula darah. Strategi ini bertujuan agar tubuh lebih cepat beralih menggunakan cadangan lemak atau trigliserida sebagai sumber energi utama selama berpuasa.

Sebagai alternatif, menu sahur sebaiknya difokuskan pada asupan protein dan lemak sehat yang memberikan rasa kenyang lebih lama. Pilihan makanan yang dianjurkan antara lain telur, ayam, ikan, hingga susu full cream untuk menjaga metabolisme tetap stabil. Selain itu, penambahan sedikit garam laut pada air minum saat sahur disarankan guna membantu retensi cairan tubuh.

Terkait aktivitas fisik, waktu terbaik untuk melakukan latihan beban adalah menjelang berbuka puasa atau sekitar 30 menit sebelum azan Magrib. Latihan beban dinilai jauh lebih aman dibandingkan kardio intensitas tinggi karena memiliki risiko dehidrasi yang relatif lebih rendah. Namun, ia mengingatkan agar tidak berolahraga terlalu dekat dengan jam tidur agar tidak mengganggu kualitas istirahat.

Mengenai kebiasaan berbuka, Ade Rai menyarankan masyarakat untuk tidak langsung mengonsumsi makanan atau minuman yang terlalu manis. Lonjakan gula darah yang drastis biasanya akan merosot cepat dalam waktu singkat dan memicu efek roller coaster atau rasa lapar berlebih. Urutan makan yang benar adalah memprioritaskan protein terlebih dahulu karena memiliki efek termik yang tinggi.

Secara fisiologis, puasa mendorong tubuh menggunakan energi dari lemak melalui aktivasi hormon sensitive lipase yang efektif. Kondisi ini disebut sebagai stress by design, di mana tubuh sengaja dikondisikan tanpa asupan makanan dalam periode tertentu untuk kesehatan. Mekanisme ini berbeda dengan diet ekstrem karena tubuh tetap mendapatkan nutrisi yang cukup saat jendela makan tiba.

Terakhir, faktor pola pikir atau mindset memegang peranan penting dalam keberhasilan menjaga kebugaran selama bulan suci Ramadan. Jika puasa dipahami sebagai proses ibadah yang positif, tubuh akan bereaksi lebih baik dalam memanfaatkan cadangan energi yang ada. Dengan strategi yang tepat, fungsi organ tubuh dapat beristirahat lebih panjang sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan cadangan energi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....