Kegemukan Berawal dari Pola Makan yang Salah?

  • 11 Feb 2026 10:32 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Gemuk akibat pola makan yang salah menjadi masalah kesehatan umum yang sering dialami banyak orang, di mana kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kalori, lemak, dan gula secara berlebihan menyebabkan ketidakseimbangan energi dalam tubuh. Mengutip dari ayosehat.kemkes.go.id/Saat kalori yang masuk melebihi yang dibakar melalui aktivitas sehari-hari, tubuh menyimpan kelebihannya sebagai lemak, terutama di perut dan pinggul, sehingga berat badan meningkat secara bertahap. Pola makan seperti ini tidak hanya memengaruhi bentuk tubuh, tapi juga memicu perubahan metabolisme yang membuat penurunan berat badan semakin sulit di kemudian hari.

Salah satu kebiasaan pola makan buruk yang paling sering adalah melewatkan sarapan atau makan tidak teratur, yang justru memperlambat metabolisme dan meningkatkan nafsu makan berlebih pada waktu makan berikutnya. Orang yang tidak sarapan cenderung mengonsumsi makanan berkalori tinggi saat siang atau malam, seperti gorengan atau makanan manis, yang memperburuk akumulasi lemak karena tubuh tidak sempat membakarnya secara efisien. Kebiasaan ngemil sembarangan dengan makanan olahan juga memperparah kondisi ini, karena kandungan gula dan lemaknya tinggi tapi seratnya rendah, membuat rasa kenyang hanya sementara.

Kurangnya sayur dan buah dalam menu harian semakin memperkuat siklus gemuk ini, sebab makanan tersebut kaya serat yang membantu mengontrol nafsu makan dan pencernaan tetap lancar. Tanpa serat yang cukup, tubuh kesulitan mengatur kadar gula darah, sehingga sering muncul rasa lapar palsu yang mendorong konsumsi karbohidrat sederhana seperti nasi putih atau camilan manis. Akibatnya, lemak visceral—lemak di sekitar organ dalam—semakin menumpuk, yang tidak terlihat tapi sangat berbahaya bagi kesehatan secara keseluruhan.

Gemuk dari pola makan salah ini tidak berhenti pada penambahan berat badan saja, melainkan memicu risiko diabetes tipe 2 karena resistensi insulin akibat lonjakan gula darah berulang. Tubuh yang terus-menerus dibanjiri kalori kosong dari makanan cepat saji akan mengalami peradangan kronis, yang mempercepat kerusakan sel-sel beta pankreas penghasil insulin. Kondisi ini saling terkait dengan pola makan buruk, di mana konsumsi lemak jenuh tinggi menghambat proses pengolahan glukosa secara normal.

Selain diabetes, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung juga menjadi konsekuensi lanjutan, karena lemak berlebih menyumbat pembuluh darah dan meningkatkan kolesterol LDL. Pola makan yang kaya garam dari makanan olahan memperburuk hipertensi, sementara obesitas menambah beban pada jantung yang harus memompa darah lebih keras. Risiko stroke pun naik drastis, sebab plak lemak dari diet tidak sehat bisa pecah kapan saja, memblokir aliran darah ke otak.

Pada akhirnya, gemuk akibat pola makan salah juga melemahkan sistem kekebalan tubuh dan memicu masalah pencernaan seperti sembelit atau gangguan hati berlemak, yang semuanya saling memperkuat satu sama lain dalam lingkaran setan kesehatan buruk. Perubahan gaya hidup modern dengan makanan siap saji mempercepat tren ini, terutama di kalangan urban yang kurang aktivitas fisik. Dengan menyadari hubungan erat ini, individu bisa mulai memperbaiki pola makan secara bertahap untuk memutus siklus dan mencegah komplikasi jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....