Di Balik Kafein: Energi Instan, Risiko Tersembunyi
- 06 Feb 2026 16:18 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Kafein menjadi zat stimulan paling banyak dikonsumsi masyarakat Amerika Serikat. Survei tahun 2025 yang dipublikasikan dalam Journal of Food and Toxicology mencatat hampir 70 persen warga Amerika mengonsumsi setidaknya satu minuman berkafein setiap hari.
Kafein tidak lagi hanya ditemukan dalam kopi atau teh. Saat ini, stimulan tersebut hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari minuman energi, gel, permen karet, bubuk, hingga produk makanan tertentu. Ragam pilihan ini membuat konsumsi kafein semakin mudah, sekaligus meningkatkan risiko asupan berlebihan.
Melansir dari nationalgeographic.com Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) merekomendasikan batas konsumsi kafein maksimal 400 miligram per hari. Secangkir kopi seduh berukuran 8 ons rata-rata mengandung sekitar 95 miligram kafein, sementara minuman energi populer mengandung sekitar 100 hingga 200 miligram per 12 ons.
Ahli neurologi Universitas Stanford, Robert Cowan, menjelaskan bahwa kafein bekerja dengan cara menghambat reseptor adenosin di otak. Adenosin merupakan senyawa yang berperan menimbulkan rasa kantuk dan mengatur ritme sirkadian.
“Ketika reseptor adenosin diblokir, tubuh menjadi lebih waspada karena kafein juga meningkatkan aktivitas dopamin, adrenalin, dan epinefrin,” ujar Cowan. Efek inilah yang membuat kafein meningkatkan fokus, energi, serta suasana hati.
Namun, efek kafein pada setiap orang berbeda. Cowan menyarankan agar konsumsi kafein dihentikan setelah pukul 14.00 waktu setempat untuk menghindari gangguan tidur. Penggunaan rutin juga dapat menyebabkan ketergantungan ringan, yang ditandai sakit kepala, mudah lelah, dan iritabilitas saat konsumsi dihentikan secara mendadak.
Di sisi lain, kafein juga memiliki manfaat kesehatan, terutama bila dikonsumsi melalui kopi dan teh. Dokter kedokteran olahraga Universitas Stanford, Michael Fredericson, menyebut bahwa manfaat kesehatan kafein kerap berasal dari senyawa lain dalam kopi dan teh, seperti antioksidan dan polifenol.
Sejumlah studi menunjukkan konsumsi kopi, termasuk tanpa kafein, dikaitkan dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, serta kanker hati. Penelitian di Inggris juga menemukan bahwa kopi bubuk dan instan berkaitan dengan risiko aritmia yang lebih rendah.
Dalam dunia olahraga, kafein bahkan dianggap sebagai salah satu suplemen paling efektif. Peneliti Universitas São Paulo, Bryan Saunders, menyatakan kafein terbukti meningkatkan performa fisik, bahkan efek plasebo dari ekspektasi konsumsi kafein pun dapat memberikan peningkatan kinerja yang signifikan.
Para ahli menegaskan, meski kafein menawarkan berbagai manfaat, konsumsi berlebihan justru dapat berdampak negatif. Karena itu, pemahaman tentang dosis, waktu konsumsi, dan kondisi tubuh menjadi kunci agar manfaat kafein dapat diperoleh secara optimal tanpa mengorbankan kesehatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....