Unhas Bahas Masa Depan di tengah Krisis Iklim, Ada Pesan untuk Anak Muda
- 17 Sep 2026 10:31 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Perubahan iklim bukan lagi sekadar cerita tentang masa depan, karena dampaknya mulai terasa dalam kehidupan masyarakat hari ini. Isu tersebut menjadi pembahasan dalam Movie Screening & Dialogue “Borrowed Futures: Intergenerational Justice, Youth Leadership and Climate Responsibility in ASEAN” yang digelar di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Universitas Hasanuddin (Unhas), Rabu 16 September 2026.
Kegiatan ini mempertemukan film, isu lingkungan, dan suara generasi muda dalam satu ruang diskusi. Sekretaris CPCD Unhas, Andi Ahmad Yani, S.Sos., M.Si., MPA., M.Sc., mengatakan pemutaran film sengaja dirancang sebagai pintu masuk menuju percakapan yang lebih terbuka tentang perubahan iklim dan keterlibatan anak muda.
“Setelah menyaksikan film, kami ingin peserta membawa pertanyaan kritisnya ke dalam dialog. Film merupakan medium untuk melihat bagaimana perubahan iklim dirasakan dalam kehidupan masyarakat, dan bagaimana anak muda dapat mengambil peran dalam meresponsnya,” ujarnya.
Agenda tersebut diselenggarakan The Center for Peace, Conflict, and Democracy (CPCD) Unhas bersama The Habibie Center dan Heinrich Böll Stiftung – Die Grüne Politische Stiftung. Melalui forum ini, isu yang dibawa dalam Borrowed Futures tidak berhenti pada persoalan lingkungan, tetapi dikaitkan dengan pengalaman masyarakat dan peran generasi muda di kawasan ASEAN.
Rangkaian acara dimulai dengan movie introduction untuk memberikan gambaran mengenai film serta isu yang diangkat. Setelah itu, peserta mengikuti movie screening dari Changing Climate, Changing Lives (CCCL) Film Festival sebelum melanjutkan kegiatan dengan interactive dialogue bersama para narasumber.
Dr. Busakorn Suriyasarn, Team Leader of Changing Climate, Changing Lives (CCCL) Film Festival, Thailand & Southeast Asia, turut membagikan pengalaman mengenai penggunaan karya audiovisual dalam menyampaikan persoalan perubahan iklim. Perspektif tersebut memperlihatkan bagaimana film dapat menjadi medium untuk membawa isu lingkungan yang luas agar lebih dekat dengan kehidupan publik, khususnya anak muda.
Diskusi kemudian mengajak peserta melihat perubahan iklim bukan hanya sebagai persoalan global, tetapi juga sebagai masalah yang hadir di sekitar mereka. Pertanyaan “How do you feel about climate change?” digunakan untuk membuka percakapan mengenai perasaan dan pandangan peserta terhadap perubahan iklim.
Dari sana, pembahasan bergerak lebih dekat ke kehidupan sehari-hari melalui pertanyaan mengenai persoalan iklim atau lingkungan terbesar di komunitas maupun pulau tempat peserta tinggal. Ruang dialog tersebut memberi kesempatan bagi peserta untuk menceritakan persoalan lingkungan yang mereka lihat dan rasakan secara langsung.
Julia Novrita, Ph.D., Director of Program and Development The Habibie Center, membawa diskusi pada dimensi keterlibatan anak muda dalam menghadapi tantangan lingkungan. Dalam konteks Borrowed Futures, keterlibatan generasi muda menjadi penting karena keputusan yang dibuat hari ini akan berhubungan dengan kondisi kehidupan generasi berikutnya.
Gagasan Borrowed Futures kemudian menjadi benang merah dalam percakapan mengenai masa depan dan keadilan antargenerasi. Masa depan dipandang bukan sesuatu yang berdiri jauh dari kehidupan sekarang, melainkan sesuatu yang sedang dibentuk melalui pilihan terhadap lingkungan, pembangunan, dan cara masyarakat menghadapi perubahan iklim.
Perspektif tersebut membuat isu perubahan iklim ditempatkan berdampingan dengan youth leadership dan intergenerational justice. Anak muda tidak hanya dilihat sebagai kelompok yang nantinya menerima dampak perubahan iklim, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang dapat ikut membentuk respons terhadap persoalan tersebut.
Bagi CPCD Unhas dan para mitranya, film menjadi cara untuk mempertemukan cerita dengan realitas yang ada di tengah masyarakat. Andi Ahmad Yani menegaskan kembali bahwa dialog setelah pemutaran film diarahkan agar peserta tidak hanya menjadi penonton, tetapi membawa pertanyaan dan pemikiran kritis ke dalam pembahasan.
“Setelah menyaksikan film, kami ingin peserta membawa pertanyaan kritisnya ke dalam dialog,” kata Andi Ahmad Yani. Menurutnya, pendekatan tersebut membantu peserta melihat bagaimana perubahan iklim benar-benar dirasakan masyarakat sekaligus memahami ruang yang dapat diambil generasi muda untuk meresponsnya.
Melalui Borrowed Futures, percakapan mengenai perubahan iklim akhirnya tidak hanya berbicara tentang ancaman lingkungan, tetapi juga tentang siapa yang memiliki peran dalam mempersiapkan masa depan. Forum tersebut diharapkan memperluas perspektif generasi muda Unhas dan mendorong mereka lebih aktif membicarakan serta menghadapi tantangan lingkungan di kawasan ASEAN.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....