FEB Unhas Dampingi 100 UMKM Sidrap Naik Kelas melalui Pendampingan 9 Desa Binaan
- 08 Sep 2026 21:20 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih sejumlah tantangan dalam pengembangan bisnis. Selain penjualan produk, pelaku UMKM juga sering kali dihadapkan pada isu legalitas, pembukuan, perencanaan bisnis, akses modal, hingga riset konsumen.
Untuk itu, pengetahuan merupakan modal yang berperan signifikan. Usaha yang tumbuh tanpa tata kelola yang baik akan sulit bertahan ketika skala bisnis mulai membesar. Kebutuhan inilah yang coba dijawab Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bersama Pemerintah Kabupaten Sidrap.
Sebanyak 100 pelaku UMKM diajak melihat kembali usaha mereka, terutama bagaimana tata kelola yang selama ini dilakukan. Ketua Kelompok Kerja (Pokja) PKM FEB Unhas, Dr. Nadhirah Nagu, S.E., Ak., M.Si., mengatakan pendampingan dirancang agar pelaku UMKM memperoleh penguatan yang dapat langsung diterapkan dalam mengembangkan usahanya.
“Melalui kegiatan PKM ini, para pelaku UMKM dapat memperoleh pemberdayaan dan pendampingan yang dibutuhkan sehingga mampu mengembangkan usahanya dan naik kelas,” ujar Nadhirah, dilansir dari keterangan resminya, Selasa 8 September 2026.
Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni FEB Unhas, Prof. Dr. Musran Munizu, S.E., M.Si., M.A.P., mengatakan kegiatan ini merupakan pintu masuk untuk membangun pendampingan yang lebih panjang. Penguatan UMKM seharusnya tidak hanya berhenti pada sekali pelatihan.
“Kegiatan ini merupakan inisiasi untuk melihat kontribusi yang dapat diberikan FEB kepada Kabupaten Sidrap. Kami akan memberikan bekal kepada UMKM agar dapat naik kelas, kemudian pendampingan akan difokuskan pada sembilan desa binaan. Kami berharap pembinaan ini dapat dilakukan secara rutin dan terus berkelanjutan,” jelasnya.
Pendekatan tersebut mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Sidrap. Sekretaris Daerah Kabupaten Sidrap, Andi Rahmat Saleh, S.E., M.Si., menilai keterlibatan perguruan tinggi dapat memperkuat upaya pemerintah menghadirkan solusi yang lebih konkret bagi masyarakat.
“Kerja sama ini merupakan salah satu bukti bahwa kampus tidak hanya hadir untuk mentransformasi dunia, tetapi juga memberikan solusi dan menciptakan perubahan nyata di tengah masyarakat, khususnya bagi para pelaku UMKM,” kata Andi Rahmat.
Pelatihan yang digelar pada kesempatan ini menyajikan beberapa narasumber, yaitu:
- Prof. Dr. Musran Munizu, S.E., M.Si., dan Fransiscus Franci Dagi, S.H., membahas legalitas terpadu serta pentingnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sebagai bagian dari upaya membangun daya saing UMKM.
- Dr. Nadhirah Nagu, S.E., Ak., M.Si. memaparkan tentang tata kelola keuangan melalui materi Manajemen Tata Kelola Keuangan UMKM Berbasis SAK EMKM, Digital Bookkeeping, dan Literasi Keuangan.
- Prof. Dr. Anas Iswanto Anwar, S.E., M.A., menjelaskan tentang kelayakan usaha, business plan, penyusunan proposal, pembiayaan, serta fasilitasi akses permodalan.
- Prof. Dr. Maat Pono, S.E., M.Si., dan Dr. Haeriah Hakim, S.E., M.Mkt., menguraikan tentang pemasaran, branding digital, inovasi kemasan, serta optimalisasi media sosial dan marketplace.
- Dr. Darwis Said, S.E., Ak., membawakan materi mengenai laporan keberlanjutan dan kalkulator karbon berbasis ESG untuk UMKM, yaitu pendekatan yang memperkenalkan pelaku usaha pada tuntutan keberlanjutan dalam dunia bisnis.
Program pendampingan berlangsung dalam dua tahap. Hari pertama diisi pembekalan dan presentasi materi. Sementara hari kedua digunakan untuk praktik dan pendampingan yang melibatkan mahasiswa FEB Unhas. Pelaku UMKM tidak sekadar mendengarkan, tetapi didorong menerapkan pengetahuan tersebut dalam pengelolaan bisnis mereka.
Pendampingan ini menjadi bagian penting dari cita-cita “naik kelas”. Sebab, bagi UMKM, naik kelas bukan semata-mata tentang menjadi lebih besar. Ia juga berarti memiliki legalitas yang lebih baik, pembukuan yang lebih tertib, perencanaan yang lebih jelas, akses modal yang lebih terbuka, pemasaran yang lebih adaptif, serta kemampuan untuk bertahan dalam perubahan.
Dan perjalanan itu tidak dirancang berhenti setelah dua hari. Dengan fokus lanjutan pada sembilan desa binaan, FEB Unhas dan Pemerintah Kabupaten Sidrap sedang mencoba membangun sesuatu yang lebih panjang: ekosistem pendampingan yang memungkinkan pelaku UMKM tumbuh bersama pengetahuan, jejaring, dan pengalaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....